MBTI in Depth: Part 9 (Se—Extroverted Sensing)

BAGAIMANA CARA KERJA Se?

Singkatnya: Menghadapi sesuatu → Dilihat secara detil → Dicari celah untuk beraksi (apakah bisa dilakukan sesuatu secara riil?) → Lompat ke aksi lain.

Se itu pengalaman sensoris yang OBJEKTIF. Maksudnya gimana? Se bener-bener ngerasain yang namanya pengalaman. Pokoknya live in the moment banget. Yang dicari adalah peluang untuk melakukan aksi selanjutnya. Se selalu akan MENCARI STIMULUS SENSORI BARU. Biasanya tipikal yang kurang suka lama-lama nunggu karena lebih baik melakukan sesuatu, gamau diem gitu, karena waktu tuh terlalu singkat. Se juga tipe yang aware sama lingkungan, karena seluruh lingkungan dia pindai untuk peluang aksi.

Se lebih suka mengikuti impuls yang muncul di kepalanya dan benar-benar melakukannya. Se juga orientasinya praktik, makanya lebih suka langsung coba aja daripada banyak mikir (Se yang Ni nya jelek biasanya lebih suka bertindak dulu baru mikir dampak ke depannya apa). Se juga benar-benar menikmati tiap sensasi yang ia rasakan di panca inderanya secara detil. Se juga sangat paham akan tubuhnya sendiri dan mengerti cara menggunakannya dengan baik. Karena pandangan Se berada pada luar dirinya, Se akan cenderung menyukai estetika dan apapun yang enak dipandang.

(NB: Gak heran kan kalo baca deskripsi Se tuh identik dengan balap mobil, barang mahal, boros, dugem apalah yang pokoknya memicu adrenalin banget. Tapi kenyataannya gak semua Se begini kok, yang penting adalah bagaimana cara ia mencari informasi.)

Se juga selalu update sama hal yang baru, gaboleh ketinggalan! Merekanya juga berubah terus, bisa dibilang Se yang 3 menit lalu bukanlah Se yang sekarang. Yang dicari adalah perubahan suasana riil. Makanya Se sering gampang terdistraksi sama hal baru. Se juga bukan cuma sekedar nyari hal baru, tapi ngejalanin apa yang ada secara maksimal sebelum pindah ke hal lainnya, “Live the life to the fullest”. Beda sama Ne, Se cenderung nyelesain apa yang dimulai.

Beda dengan Si yang semua pengalaman sensorik disimpan, Se merasa itu tidak perlu sehingga cenderung pelupa (NB: Kata Se-dom/aux, memori mereka kayak memori ikan lmao, yang diinget bagian serunya aja).

Se nantinya akan mempunyai pandangan realistis paling objektif pada dunia dan sesuai dengan fakta yang ada. Pandangan Se pada dunia akan sangat luas dan gak pilih-pilih. Kalau suruh seseorang yang bisa jelasin sesuatu secara gamblang dan detil, pilih Se. Soalnya Se pemerhati banget sampe ke hal-hal yang orang gak liat.


Bagusnya, Se adalah orang yang berani mengambil risiko. Karena yang dicari adalah perasaan tegang dan serunya. Se juga cenderung bergerak cepat dalam melakukan sesuatu karena haram hukumnya membuang-buang waktu, karena waktu yang terbuang bisa digunakan untuk mencari stimulus lain. Se juga pasti punya banyak pengalaman, jadi gak naif. Se juga tipe yang aktif.


Jeleknya, Se sering terlihat seperti tidak memiliki tujuan hidup karena menentukan cita-cita/tujuan akan membatasi geraknya (terutama yang Ni-nya tidak terpakai). Karena tidak ada tujuan, aksi yang dilakukannya juga tidak terencana, sehingga jika gagal, Se tidak punya cadangan rencana (tapi selalu bisa cari cara untuk kabur sih karena lebih peka pada sekeliling sehingga bisa cari celah).

Se juga sering diidentikkan dengan playboy/girl atau tidak punya teman yang tetap karena mengalami isu komitmen. Isu komitmennya karena selalu merasa bahwa di luar sana bisa saja ada yang lebih baik dan komitmen itu mengekang kebebasannya untuk mencari yang lain.

Se yang Ni-nya jelek, seperti telah disebutkan sebelumnya, sering gak berpikir dulu sebelum bertindak, jadinya kadang nyesel sendiri. Tapi untungnya karena cepet nangkep stimulus lain, sedihnya gak berlarut-larut.


BAGAIMANA CARA KERJA Se DI URUTAN YANG BERBEDA?

Se-dom (ESTP, ESFP): Mereka kerjanya cari pengalaman terus tanpa henti! Motto mereka itu “Life is too short” makanya mereka ke sana sini nyari pengalaman. Tujuan hidupnya adalah nyobain semua hal di bumi. Yang ngebedain adalah fungsi judging mereka, Ti/Fi. Ti akan cenderung mencari sesuatu yang dapat diproses menjadi pemahamannya tentang cara kerja sesuatu, sedangkan Fi akan mencari pengalaman yang akan membuatnya bahagia terus. Kalau Ni-nya gak berkembang, mereka bakal terlalu liar dan seakan gapunya tujuan hidup.

Se-aux (ISTP, ISFP): Mereka menggunakan Se mereka sebagai pencarian data yang dibutuhkan oleh Ti/Fi mereka. Se juga digunakan sebagai penggerak, namun tidak akan seaktif Se-dom. ISTP membutuhkan Se untuk mengumpulkan data agar nantinya ia bisa melakukan sesuatu dengan seefektif mungkin, dengan mempertimbangkan risk and benefit, dari menyortir ribuan cara yang bisa dilakukan. Se pada ISTP juga membuatnya untuk cenderung memilih ilmu yang dapat diaplikasikan di dunia nyata saja. ISFP membutuhkan Se untuk mendekati orang-orang sebelum membuat penilaian (Karena Fi-nya mau judge orang tersebut, Se-nya digunakan untuk mendapatkan info sebanyak-banyaknya dari orang tersebut sebelum akhirnya judge. Kalau dia gamau judge, ya ga akan dideketin sama sekali).

Se-tert (ENTJ, ENFJ): Se membuat ENTJ/ENFJ lebih cepat dalam mengambil peluang. Se-tert langsung secara impulsif mencari-cari dunia yang menurutnya ideal tanpa buang-buang waktu ketika sesuatu tersebut sesuai maupun tidak sesuai dengan ambisinya (Ni) (maksudnya, cepat datang kalau cocok, cepat pergi kalau gak cocok). Se-tert juga lebih nekat mendobrak batasan yang ada demi mencapai ambisinya (beda sama Ne-tert yang ingin mencari cara lain namun tetap aman namun tujuannya tetap sampai). Jeleknya, Se ini membuat ENTJ/ENFJ terlihat oportunis, licik, serta egois kalau tidak digunakan dengan benar. Mereka bisa saja melakukan sesuatu yang tidak wajar demi mencapai tujuannya.

Kalau lagi stres, bisa jadi mereka melakukan sesuatu yang biasanya habis itu mereka sesali. Sebenarnya, Se ini metode ENTJ/ENFJ untuk melegakan atau melampiaskan kekecewaannya. Mereka juga suka melupakan tujuan awal mereka melakukan itu – asal lakukan saja yang penting seneng!

Se-inf (INTJ, INFJ): Para Ni-dom mungkin akan menganggap bahwa dunia nyata ini tidak ideal sama sekali sehingga malas untuk menjamahnya. Namun, tanpa Se, para Ni-dom tidak bisa melakukan reality check. Karena Se-nya lemah, mereka suka tidak sadar melakukan sesuatu berulang-ulang kali demi tujuannya. Mereka akan buang-buang tenaga percuma karena kurang bisa mengukur seberapa mungkin peluang terjadinya dunia idealnya di dunia nyata. Bedanya dengan Se-tert, Se-tert biasanya lebih paham kapan harus berhenti karena sudah dirasa tidak efektif lagi (Te/Fe dom). Se-inf membuat penggunanya kurang sadar akan pentingnya untuk berhenti dan mencari alternative tujuan lain ketika sudah dirasa tidak mungkin. Bagus sih pantang menyerah, tapi apakah efektif dan berdampak baik bagi diri sendiri? Soalnya Se yang gak kepakenya bisa bikin liar banget untuk mencapai tujuannya, walaupun itu ngebahayain dirinya sendiri.

Se-nya akan muncul ketika stres dan dalam bentuk melarikan diri. Ia akan melakukan sesuatu yang nantinya akan ia sesali tanpa berpikir panjang (kehilangan fungsi sehat Ni). Mestinya, Se digunakan untuk memberi batasan realistis pada Ni dan membantu Te/Fe dalam menyusun langkah yang realistis dan efektif dan mendorong eksekusi untuk mencapai tujuannya. Se juga dapat memberikan opsi alternatif jika langkah yang dilakukannya tidak berhasil.

—ISTJ

MBTI in Depth: Part 8 (Si—Introverted Sensing)

BAGAIMANA CARA KERJA Si?

Singkatnya: Mengalami/melihat/merasakan sesuatu → Dimaknai secara subjektif (biasanya punya cara mengingat sendiri berdasarkan kesan yang ditangkap saat itu) → Dipilah-pilah berdasarkan kategori → Disimpan dalam memori → Sebelum bertindak, akan mencari dulu pengalaman sebelumnya yang sudah disimpan.

Si itu pengalaman sensoris yang SUBJEKTIF. Maksudnya gimana? Jadi Si menyimpan segala sesuatu yang dialaminya SESUAI DENGAN KESAN YANG IA TERIMA SAAT ITU, yang mungkin beda dari kenyataan aslinya. Ingat, yang disimpan KESAN, bukan kejadian aslinya. Oleh karena itu, Si kurang baik dalam menjelaskan kenyataan yang objektif secara gamblang seperti Se, karena yang dijelaskan adalah hal yang menurut Si berkesan saja. Si juga memilih-milih pengalaman mana yang berkesan baginya.

Inilah yang membuat Si diidentikkan dengan kaku, karena jika Si tidak menyimpannya atau tidak mengalaminya, hal itu tidak pernah terjadi. Contoh, jika biasanya Si mengalami A, Si tidak akan memikirkan kemungkinan terjadinya B dan C karena B dan C tidak nyata bagi Si. Gampangnya, Si kayak pake kacamata kuda, cuma lihat apa yang bisa dilihat aja.

Selain itu, karena mereka mengambil kesan dari dunia sekitar, mereka berpikir bahwa seluruh dunia seperti itu, tanpa mencari sumber lain atau crosscheck terlebih dahulu. Si cenderung menggeneralisir sesuatu.

Kenapa Si berpaku sama pengalaman? Karena Si merupakan fungsi perceiving (pengambilan data) yang introverted, jadi sumber satu-satunya yang bisa diambil adalah pengalaman pribadinya. Karena pengalamannya bersifat subjektif/pribadi, maka informasi yang didapat oleh masing-masing orang dengan Si dapat berbeda-beda, sehingga memengaruhi manifestasi perilaku yang dikeluarkan oleh pengguna Si. Jangan pikir semua Si sama perilakunya!

Setelah mengumpulkan informasi, Si akan mengkategorisasikan informasi tersebut berdasarkan persamaannya secara umum. Lalu, mudahnya, informasi-informasi serupa tersebut dimasukkan ke dalam lemari folder besar sesuai kategorinya. Seperti perpustakaan. Nantinya, jika dibutuhkan, Si akan mencari data-data yang dibutuhkan di “lemari” tersebut. Jika pengalaman tersebut baru untuk pengguna Si, wah, kacau dunia. Kuncinya adalah mencari data yang FAMILIAR.

 

Dari informasi-informasi tersebut, mereka biasanya akan membentuk pola yang akhirnya akan membentuk suatu kesimpulan cara kerja dunia secara UMUM. Gampangnya anggaplah informasi seperti kepingan puzzle, yang nantinya akan disusun-susun hingga membentuk suatu gambaran besar. Karena ini juga, Si sering dibilang detil, karena untuk membentuk gambaran besar, dibutuhkan banyak kepingan puzzle spesifik. Dari gambaran cara kerja dunia secara umum, pengguna Si biasanya akan menentukan definisi “normal” bagi hidupnya berdasarkan informasi lampau yang diterimanya.

Si selalu membutuhkan kepastian dalam bentuk informasi yang konkrit sebelum Si berani mengambil keputusan via Te atau Fe nya. Sebab itu, Si memiliki kecenderungan untuk mencari sesuatu yang aman (inti dari Si adalah SECURITY) dan gak berani ngambil risiko. Makanya Si sering dibilang membosankan karena terlalu datar hidupnya (padahal gak semuanya begitu).

(NB: Sebenernya agak kontradiktif. Si selalu takut melangkah karena butuh banyak informasi, tapi gak secara aktif mencari informasi tersebut, makanya stuck di tempat.)

Apakah memori orang dengan Si-dom/aux baik? Sebenarnya cukup baik, namun karena yang disimpan adalah kesan, bukan hal realnya, jadi kadang memorinya suka tidak tepat. Bener emang ada kejadian begitu tapi kadang detilnya berubah sesuai dengan kesan yang ditangkap oleh Si. Jadi jangan aneh kalau Si-dom/aux kadang suka melenceng ingatannya atau lupa (karena gak berkesan). Tapi kalau sekalinya ingat, wah, detil banget.


Bagusnya, pengguna Si biasanya detil banget. Selain itu, pengguna Si juga seringnya mudah bersyukur, gak neko-neko, karena mereka menerima apa yang ada di dunia ini apa adanya. Semua pekerjaan yang dikasih ke pengguna Si biasanya dikerjain karena mereka menganggap bahwa hal itu yang memang seharusnya dikerjakan tanpa banyak mikir lagi. Yaa jalanin aja hidup seadanya begini. Oleh karena seperti yang banyak paham tentang dunia yang normal gimana dan menjalani kehidupan dengan apa adanya, pengguna Si biasnaya dianggap lebih dewasa dan bijaksana. Selain itu, Si cenderung konsisten karena selalu membandingkan dengan yang sudah pernah sebelumnya, serta setia karena malas mencari lagi hahahaha.


Jeleknya, Si terlalu berhati-hati! Sebenernya ini pedang bermata dua sih. Sisi bagusnya, Si bakal mengerjakan semuanya dengan tidak tergesa-gesa sehingga kualitas pekerjaannya terjamin. Tapi kehati-hatian ini bikin Si kurang pengalaman, sulit adaptasi, serta lamban.

Karena kecenderungan Si untuk mencari pengalaman sebelumnya, seringnya sih Si males cari pengalaman baru atau memikirkan kemungkinan apa yang terjadi di luar informasi yang sudah didapatkan sebelumnya, jadi cenderung berpikiran tertutup. Kadang ada bagusnya mempertahankan apa yang sudah ada, tapi kan dunia terus berubah, jadi harus menyesuaikan diri. Jadinya pasif juga, kurang mau inisiatif.

Karena selalu berpaku sama pengalaman, Si sering takut sama masa depan. Takut karena masa depan itu adalah hal yang belum terjamah dan memikirkan kemungkinan-kemungkinannya aja udah males, jadi selalu memikirkan kemungkinan terburuknya terus alias pesimis (ini karena Ne nya paling bawah sih jadi cenderung negatif). Ini juga sebenernya yang membuat Si sering over-prepared sama sesuatu (makanya cenderung terencana) karena takut terjadi apa-apa nantinya. Si gak suka banget kalo melakukan sesuatu tanpa rencana karena takut salah langkah. Terlalu lihat ke belakang juga bikin Si cenderung membanding-bandingkan dan sulit move on dalam berbagai hal.

—————

BAGAIMANA CARA KERJA Si DI URUTAN YANG BERBEDA?

Si-dom (ISTJ, ISFJ): Mereka lebih suka mengumpulkan sebanyak mungkin informasi terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Yang membedakan dari ISTJ dan ISFJ adalah fungsi judging mereka, Te/Fe, seperti yang sudah dijelaskan di post sebelumnya. Tujuan hidupnya adalah untuk menjadi senormal mungkin (definisi ‘normal’ mereka subjektif banget, cuma biasanya sih sesuai dengan norma/aturan yang ada di lingkungannya). Kalau Ne-nya tidak berkembang, mereka bakal jadi super kaku dan takut sama masa depannya, sulit berubah. Hati-hati terlena sama comfort zone!

Si-aux (ESTJ, ESFJ): Mereka menggunakan Si sebagai panduan hidup dalam aksi-aksinya. Oleh karena mereka lebih berorientasi pada aksi daripada mengumpulkan informasi, mereka biasanya lebih kaku dalam menggunakan Si mereka (terutama kalau Ne-nya belum berkembang). Kesannya jadi memaksakan apa yang mereka ketahui sebelumnya karena memang itu yang seharusnya semua orang lakukan dan dengan seenaknya judge orang kalo misalnya gak sesuai dengan apa yang menurut dia normal. Padahal kan pengalaman, background, nilai-nilai tiap orang beda-beda, gak bisa digeneralisir.

Si-tert (INTP, INFP): Biasanya dipakai untuk menjadi bahan refleksi, tapi karena munculnya dengan cara yang jelek, Si nya malah memberi umpan informasi yang jelek-jelek dan malah bikin INTP dan INFP makin stres dan over-analyzing things. Yang lebih disalahkan adalah masa lalunya, bukan dirinya sendiri.

Kalau diumpamakan, informasinya disimpan acak-acakan begitu saja di kepalanya karena Ne-nya, tapi mereka selalu tau di mana mereka mencari informasi tersebut jika dibutuhkan. Kalau lagi stres, tiba-tiba mereka teringat sesuatu hal spesifik dan malah stuck di situ – terlalu menganalisis suatu kejadian spesifik di masa lampau. “Inget gak waktu <pengalaman buruk>? Ya ampun, lo bodoh/jahat banget sih!!”
Selain itu, munculnya dengan cara menjadi terlalu sempit dalam memandang dunia. INTP dan INFP akan sangat mendalami apapun yang menurut mereka menarik, tapi menutup mata pada hal yang menurutnya tidak penting atau tidak menarik, walaupun mereka bisa tertarik pada banyak hal dan selalu berubah-ubah karena Ne-nya.

Si-inf (ENTP, ENFP): Para Ne-dom ini biasanya menganggap Si tidak penting karena terlalu kaku dan membatasi kemungkinan. Tapi ini juga yang sering bikin mereka selalu mengulangi kesalahan yang sama karena tidak ingat pada kejadian yang lampau. Mestinya, Si ini digunakan untuk memberhentikan Ne ketika berusaha mengejar kemungkinan yang tidak mungkin – karena sebelumnya sudah pernah gagal, misalnya, atau secara nyata tidak mungkin terjadi (reality check). Selain itu, Si juga dapat mengingatkan Ne untuk fokus pada 1 hal saja dan mendalaminya, supaya tidak lompat-lompat dan menyelesaikan apa yang ia mulai. Tapi jangan salah, sebenernya kalau sudah merasa nyaman atau “klik”, Ne-dom susah move on. Maksudnya dia bakal tetep playful tapi inget ke mana dia harus pulang.

Kalau muncul biasanya juga dengan cara yang sangat buruk, yaitu dengan berpikir kalau tidak ada acara lain dalam menyelesaikan sesuatu dan berpikir kalau masa depannya suram. Jadi pesimis, mikir semuanya sia-sia, dan takut bergerak maju. Selalu terngiang-ngiang pengalaman buruk yang bikin dia kayak gini dan gagal buat mikirin kemungkinan apa aja yang bisa muncul dari hal itu. Hati-hati depresi. Selain itu, Si-nya kadang digunakan untuk mendendam (ini muncul pada saat tidak sehat).
—ISTJ

MBTI in Depth: Part 7 (Fe – Extroverted Feeling)

BAGAIMANA CARA KERJA Fe?

Singkatnya: Berinteraksi dengan sekeliling/memerhatikan pola interaksi orang lain untuk mengetahui moral orang lain/bersama → Membuat kriteria “baik” dan “buruk” berdasarkan moral bersama tersebut → Membuat kode etik moral kolektif yang harus dipatuhi (dan berusaha menyesuaikan diri sendiri dengan moral tersebut).

Fe membuat definisi moral (baik/buruk) dari orang-orang/masyarakat secara umum. Fe akan berusaha menyesuaikan dirinya dengan moral yang ada di sekelilingnya dan memastikan bahwa orang-orang lain juga mengikutinya. Karena moralnya didapatkan dari luar, Fe membutuhkan validasi dari luar untuk membuat Fe merasa yakin dengan pendiriannya.

Yang lebih penting bagi Fe adalah dapat membangun harmoni sekitar, yaitu dengan memastikan bahwa orang lain senang (dan orang Fe akan berusaha untuk selalu menyenangkan orang lain), menyesuaikan, dan mengikuti apa ekspektasi orang dari dirinya.

Bahan pertimbangan Fe adalah “kenyamanan orang lain”, “kesesuaian moral dirinya dengan moral kolektif” dan “apa yang akan orang lain pikirkan akan hal ini”. Kuncinya adalah “Kita”. Dirinya harus menyatu dengan orang-orang di sekelilingnya. Fe jauh lebih percaya penilaian orang lain atas dirinya. Biasanya Fe suka sulit menilai diri sendiri (atau, kalau imatur, selalu menganggap diri sendiri lebih rendah dari orang lain).

Konsep “baik” dan “buruk”-nya Fe sebenarnya cukup hitam-putih – maksudnya tidak spesifik pada kasus tertentu pandangannya. Jika semua orang setuju bahwa membunuh itu buruk, maka pada kasus apapun membunuh akan menjadi buruk untuk Fe, karena /semua orang/ sudah setuju.

Fe yang baik tidak akan judgmental pada orang lain karena yakin bahwa orang lain punya maksud sendiri dari perilakunya (ingat, poinnya adalah yakin bahwa orang lain pasti lebih baik dari dirinya, bukan karena orang lain tidak terlalu berpengaruh pada pendiriannya seperti Fi).

Fe sebenarnya cukup sering membohongi dan mencurangi keinginan sendiri demi dapat menyenangkan orang lain. Karena, jika ia sedih, ia takut akan membuat orang lain ikut sedih (beda dengan Fi yang beranggapan bahwa jika ia sedih ia akan menutupinya karena dirasa orang lain tidak perlu tahu – perasaan itu adalah hal yang sangat pribadi). Mereka sering bisa merasakan perasaan orang lain dari mimik muka, gestur, perkataan, dan lain-lain. Mereka lebih sensitif pada perasaan orang lain, bukan pada perasaan dirinya sendiri. Bagi Fe, orang lain jauh lebih penting daripada diri sendiri.

Fe biasanya cukup ekspresif dalam mengungkapkan perasaannya. Jika ia sayang, ia akan mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata dan perbuatan. Fe juga tahu apa yang diinginkan orang lain, jadi kata-katanya selalu halus dan tidak menyakiti orang lain, serta identik dengan romantis. Karena jika ia sayang dan peduli, orang yang disayang harus tahu. Jika ia bahagia, orang harus tahu, dengan harapan ia menularkan kebahagiannya ke orang lain. (Karena ia pun mudah tertular kebahagiaan orang lain!)

Fe akan membuat/menegakkan suatu kode etik moralitas yang harus dipatuhi oleh orang lain. Jika orang lain tidak mematuhinya, biasanya Fe menggunakan bahasa yang “muter-muter” kalau mau minta orang lain menurutinya, dengan maksud tidak menyakiti perasaannya.


Heran kan karena manifestasinya Fe sama Fi bisa mirip? Ya, karena yang beda motivasinya! Yang penting adalah Fi selalu kembali ke MORAL PRIBADI, sedangkan Fe selalu kembali ke MORAL KELOMPOK/KOLEKTIF. Bagi Fe, mendahulukan kebutuhan pribadi itu egois.


Positifnya? Sangat menyenangkan, hangat, mudah bergaul, dan perhatian! Gak ada yang bisa meragukan social skill-nya Fe, deh! Fe adalah definisi people-person. Peace maker juga.


Negatifnya, (terutama pada Fe imatur)

Fe sering terlihat seperti “palsu” karena seperti bunglon yang selalu mengikuti moral orang di sekelilingnya—selain terlihat seperti tidak punya pendirian juga. Biar orang itu senang, oh yaudah, ikutin saja, padahal maunya bukan itu. Ada kalanya gak apa-apa loh, ngikutin kemauan diri sendiri asal tidak merugikan orang lain.

(NB: Fe tuh people-pleaser—baik di suatu sisi dan buruk di sisi lainnya. Baik karena selalu pengin bikin orang lain seneng; buruk karena bisa jadi “menghalalkan segala cara” buat bikin orang lain seneng, walaupun mengorbankan idealismenya sendiri.)

Fe itu butuh perhatian dari luar yang tinggi. Di dalamnya Fe merasa sangat “rapuh”, jadi ia butuh validasi dari orang lain untuk tetap bertahan. Insecure juga kalau gak menemui ekspektasi orang lain. Jadi ia akan berusaha cari validasi dengan cara yang paling tidak mengganggu orang lain—kode. (Kalau kodenya gak nyampe ke orang tersebut, Fe langsung merasa ditolak. Fe juga bakal stres kalau pendapat/nasihat mereka untuk kebaikan bersama gak didengarkan.) Pengguna Fe makin bawah urutan fungsinya makin tidak sadar dengan “tidak mengganggu orang lain”, makanya caranya kadang menggelikan.

Fe sering juga bikin orang merasa bersalah dengan memanipulasi perasaan orang lain dengan memainkan perasaan/kebutuhan dia dengan masyarakat/kelompok. Karena Fe sangat paham apa yang ingin orang lain inginkan, jadi Fe kadang akan memanfaatkan itu untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain.

Fe sering stres sendiri mikirin apa kata orang (atau membayangkan orang bakal ngomong apa, takut banget dicap jelek). Jadi ribet banget masalah perintilan yang gak penting, yang penting tampil sempurna depan orang. Orang harus suka sama dia. Karena Fe juga ngerti apa yang dibilang orang sebagai “buruk”, Fe bener-bener jaim parah agar gak dicap buruk sama orang lain dengan berusaha melakukan apapun yang menurut orang baik, walau mungkin itu gak sesuai sama dirinya.

Fe cenderung plin-plan karena butuh validasi yang cukup dulu dari orang lain baru bisa memutuskan. Berubah-ubahnya karena akan selalu berusaha menyesuaikan keinginan orang lain dulu baru membuat keputusan—sedangkan keinginan orang lain kan beda-beda. Remember, you can’t please everyone.

Fe juga sebenarnya mudah diperalat orang lain, apalagi yang Ti-nya tidak berkembang. Karena cenderung tidak ingin mengecewakan orang lain, Fe sering tidak bisa melawan jika dirugikan dan penginnya melayani terus padahal tersakiti. Mereka seringnya gak peduli sama maksud di balik tindakan orang lain ke mereka, karena yang penting respons mereka yang paling baik buat orang tersebut.

Fe sangat gampang mendeteksi konflik yang ganggu harmoni sekitar. Saking terganggunya, Fe sering jatuh ke dua ekstrem, menghindari atau justru tabrak konfliknya. Keputusan ini tergantung dari banyaknya orang yang akan dirugikan dengan konflik tersebut. Cenderung kabur kalau ia takut malah memperparah masalah (biasanya ini dilakukan oleh Fe urutan bawah—saking kurang paham sama moral kolektif). Kadang bagus sih, tapi seringnya gak menyelesaikan masalah, malah bikin masalah baru.

Fe harus sadar kalau kebutuhan setiap orang gak sama, jadi jangan suka memaksakan kehendak dengan dalih kebaikan bersama, terutama pada orang-orang tertentu.


BAGAIMANA CARA KERJA Fe DI URUTAN YANG BERBEDA?

Fe-dom (ENFJ, ESFJ): Tujuan hidupnya adalah untuk melayani dan menyenangkan orang sebaik mungkin. Benar-benar orientasinya pada orang lain, dirinya sering dilupakan. Moral-moralnya juga diambil dari masyarakatnya lalu dijadikan patokan untuk dirinya agar bisa digunakan ke dirinya sendiri dan ke orang lain yang menurutnya salah. Fe-dom lebih vokal dalam menyuarakan apa yang menurut masyarakat salah dan berusaha membenarkan/meluruskan orang-orang yang tidak sesuai dengan moral masyarakat. Kadang caranya terlalu mengekang dan terlalu seragam, jadi orang-orang Fi biasanya sebel kalau diatur sama Fe.

Fe-aux (INFJ, ISFJ): Mereka punya idealisme sendiri dalam bagaimana mestinya moral kolektif manusia dan bagaimana cara berinteraksi dengan benar. Jika tidak sesuai atau orang lain “menolak” konsepnya, ia biasanya langsung defensif dan menganalisis ulang semua idealismenya (Ti-tert). Fe-aux biasanya tidak terlalu memaksakan moralnya untuk dipatuhi oleh orang lain, kecuali memang itu hal yang sangat dasar/orang yang sangat ia pedulikan.

Fe-tert (ENTP, ESTP): Gunanya untuk 2: iseng atau caper. Iseng karena ingin lihat respon orang-orang dengan berbagai stimulus (buah Ne dan Se-nya), caper karena ingin Ti-nya dipuji-puji orang. Isengnya kadang dengan maksud cari perhatian juga sih. Karena perasaan orang lain bukan concern utamanya, biasanya mereka cari perhatian sampai membuat orang lain bener-bener tertarik sama dia, lalu digunakan untuk pemuas egonya saja. Cara ngomongnya juga sering kayak sales, yang berbisa dan membius, karena tahu orang mau dengar apa.

Padahal sebenarnya Fe ini untuk memperluas cakupan idealismenya Ti, agar membangun sistem yang lebih humanis dan membuat dunia lebih nyaman ditinggali oleh orang lain. Fe juga mestinya dijadikan bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan, dengan tujuan kebaikan bersama.

Fe-inf (INTP, ISTP): Mereka kurang paham dan peka dengan moral kolektif dan perasaan orang lain. Sekalinya keluar, meledak-ledak—kayak “oven bocor”—hangat di luar, dingin di dalam. Munculnya terutama kalau orang terdekatnya disakiti. Apalagi kalau yang menyangkut moral yang semua orang setuju bahwa itu tidak boleh dilakukan oleh manusia manapun. “Siapa yang berani nyakitin [orang terdekat] gue??? Gue tonjok juga nih!! Kurang ajar itu manusia!”

Biasanya mereka suka sering menutupi keinginannya untuk divalidasi oleh orang lain, karena ngerti banget itu gak masuk akal dan gak penting. Kadang di suatu titik mereka tidak bisa menutupi perasaan tersebut lagi dan akan merasa sangat terluka jika orang lain tidak memvalidasi tindakannya. Lucunya, mereka akan terlihat biasa saja di wajahnya tapi sebenernya seneng banget kalo ada orang yang muji/memerhatikan mereka. Bedanya sama Fe-tert, mereka gak akan caper.

—ISTJ

MBTI in Depth: Part 6 (Fi – Introverted Feeling)

BAGAIMANA CARA KERJA Fi?

Singkatnya: Lihat situasi/orang sekeliling ➡️ Ditelaah perbagian dan di”rasa”kan satu persatu ➡️ Disortir ➡️ Membuat kriteria “baik” dan “buruk” sendiri/disesuaikan dengan kriteria ➡️ Menentukan sikap pribadi terhadap suatu hal spesifik (suka/benci) ➡️ Dijadikan moral/prinsip pribadi.

Ya, intinya mereka ingin membuat moral sendiri berdasarkan dunia yang ada dan bersikap sesuai moral yang dia punya. Segala sesuatu yang dia hadapi akan ia telaah sendiri; apakah ini sesuai dengan moral saya? Karena bertahan pada keyakinan diri sendiri lebih penting bagi orang Fi. Gampangnya, Fi itu definisi dari “Me, myself, and I.”

Fi mendapatkan moral sebenarnya dari moral yang sudah ada – ajaran keluarga, lingkungan, dll, tapi semuanya ia saring lagi, tidak ditelan mentah-mentah, bukan semata-mata untuk menyenangkan orang lain. Yang paling penting adalah harmoni pribadi, bukan harmoni dunia luar.

Fi yang baik sebenarnya sangat tidak judgmental sama orang karena kalau hal itu tidak terlalu berpengaruh pada dirinya. Sebenarnya awalnya pasti judge orang sebagai penilaian awal, tapi ia tidak langsung mengambil keputusan untuk membencinya/menyukainya, ia harus kenali dulu langsung orangnya baru ia bisa mengambil sikap. Jadi, moral yang ia punyai itu bisa fleksibel tergantung situasinya (jadi spesifik perkasus). Jadi untuk merasakan sesuatu, Fi harus menempatkan dirinya di posisi orang tersebut, baru ia bisa menilai. [NB: Sering banget kita lihat Fi-dom/aux yang bilang, “Only God can judge me” lol.]

Fi ini juga tidak bisa membohongi perasaan sendiri. Biasanya sih langsung terlihat kalau ia tidak suka pada sesuatu, tapi tidak bilang, karena menurutnya perasaan adalah hal yang sangat pribadi. Fi biasanya adalah orang-orang yang cukup sulit dipahami karena yang tahu perasaannya hanya dia sendiri. Mereka merasakan sesuatu dengan sangat intens.

Fi biasanya sulit untuk mengungkapkan perasaannya sendiri, bingung untuk menuangkannya dalam kata-kata (kadang juga merasa kalau orang lain gak perlu tahu, belum tentu mengerti juga). Fi juga, jika merasa sayang sama orang, sayangnya akan benar-benar dalam (sampai merasa orang itu menjadi bagian dari dirinya sendiri). Memang, Fi tidak akan bisa romantis, namun perhatiannya akan lebih ditunjukkan dengan aksi nyata.


Positifnya? SANGAT POSITIVE THINKING! Fi selalu membuka kemungkinan/situasi lain yang dapat menjelaskan sikap buruk seseorang. Sebenarnya itu karena ia tidak dapat merasakan jadi si orang itu juga, jadi ia tidak bisa judge apa-apa tentang dia. “Gue siapa sih bisa judge dia seenaknya.”

Selain itu, Fi yang baik akan sangat open-minded karena sadar bahwa tiap manusia itu unik dan tidak bisa disamakan. Berbeda itu wajar.


Negatifnya:
[DISCLAIMER: Ini terjadi pada Fi yang imatur alias belum berkembang.]

Fi cenderung berpikir kalau orang lain juga memiliki moral yang sama dengannya, jadi sering merendahkan orang lain yang tidak sealiran. Selain itu, Fi juga sering tidak percaya pada kemampuan orang lain karena merasa moralnya paling benar sendiri.

Fi bisa juga jadi mudah dimanipulasi orang! Misal si Fi berpikir kalau orang lain pasti jujur, sama seperti dirinya, jadi apa yang orang katakan itu dianggap jujur olehnya, tanpa tahu kalau itu ia sedang dibohongi.

Fi juga cenderung tidak peka dengan moral sekelilingnya. Jadi biasanya ia tidak sadar kalau orang tidak sreg dengan pilihan dia, moral dia, dll dan akan terus melakukannya. “Terserah mau bilang apa, memang gue pikirin? Menurut gue ini yang benar, kok.” Padahal mestinya ia mendengar timbal balik dari orang lain atas dirinya, toh untuk perkembangan dirinya juga. Hal lain yang bisa muncul dari ini adalah tidak suka diatur-atur dan sulit diberitahu (keras kepala).

Fi juga akan membangun standar sendiri untuk dirinya, perfeksionis memang. Nah kadang ia tidak dapat memenuhi standarnya sendiri, sehingga sering menyalahkan dirinya sendiri dan malah jadi tidak percaya diri. Diperparah juga dengan ia sering menganggap dunia ini terlalu tidak sesuai dengan standarnya – ketika ia memperjuangkan standarnya ia malah dianggap aneh oleh orang kebanyakan – jadi ia sering menganggap dunia ini jahat. Jeleknya sering “play victim” – “Dunia ini jahat! Kenapa sih dunia ini gak adil banget sama aku?” Akhirnya memunculkan sikap pasif-agresif dan superiority complex. [NB: Jangan heran kalau kebanyakan Fi-dom sering dikorelasikan dengan emo.]

Terakhir, yang paling sering – egois! Biasanya Fe sebel sama Fi karena ini. Fi tahu apa yang dimau dan tidak memikirkan perasaan orang lain juga, jadi apapun yang ia mau ia akan utarakan blak-blakan. Asal gue seneng, halal. Kadang ini tidak sesuai dengan maunya orang lain, jadi kesannya seperti egois. Alasan lainnya juga karena orientasinya ke diri sendiri terus. Kalau ngomong, tentang diri sendiri terus. Kalau mikir, diri sendiri dulu yang utama.


BAGAIMANA CARA KERJA Fi DI URUTAN YANG BERBEDA?

Fi-dom (ISFP, INFP): Biasanya Fi-nya sudah punya penilaian sendiri terhadap sesuatu, namun harus merasakan sendiri (Se) atau memaknai sendiri (Ne) dulu akan suatu kejadian. Fungsi Se dan Ne-nya hanya dikeluarkan jika ia butuh menilai sesuatu. Semua data dari Se dan Ne akan disortir dan dibuat kriteria akan dijadikan nilai moral pribadi yang sulit digoyahkan. Sulit digoyahkan ini bisa jadi positif bisa jadi negatif. Yang buruknya Fi-dom ini sulit diubah pendiriannya dan cenderung merasa paling benar sendiri dan malah menyalahkan dunia karena tidak mengindahkan pikirannya (lebih sering di INFP dibandingkan ISFP, karena ISFP lebih “menyatu” dengan lingkungan sekitar berkat Se-nya).

Fi-aux (ESFP, ENFP): Karena lebih mengutamakan pengumpulan data (Se/Ne), jadi mereka menilai sesuatu hanya ketika ia merasa butuh saja. Fi bertindak sebagai koridor moral pencarian data para Fi-aux. Jika para Fi-aux belum matur, memang kesannya jadi sangat “liar” karena semua hal mereka jelajahi tanpa kode etik tertentu yang membatasi dirinya. Cenderung melakukan hal seenaknya tapi tidak mau dihakimi orang lain dan malah menyalahkan orang lain sebagai “tidak bermoral”.

Fi-tert (ISTJ, INTJ): Seringnya muncul dalam keadaan stres. Biasanya ISTJ/INTJ cenderung menyalahkan diri sendiri ketika stres dan mengurung diri sendiri dalam perasaan bersalah yang tidak kunjung hilang. Manifestasi ke luarnya bisa jadi menyalahkan orang lain untuk tetap terlihat benar (padahal di dalamnya sedang mengutuk diri sendiri). Lama kelamaan, bisa-bisa lupa dengan kebaikan diri sendiri dan selalu fokus sama keburukan diri sendiri yang bisa mengikis kepercayaan diri. Kadang muncul juga sisi kekanakannya yang egois.

Pada beberapa Fi-tert yang sudah mulai menggunakan Fi nya dengan baik namun masih ragu-ragu akan moralnya sendiri, biasanya mereka menjadi terlalu berlebihan dalam menggunakan moral-moralnya, takut salah. Jadi terlalu sopan dan sangat gak enakan sama orang, saking tidak mengerti orang lain maunya apa.

Fi-inf (ESTJ, ENTJ): Mereka biasanya kesulitan untuk menganalisis perasaannya sendiri dan apa yang sebenarnya diinginkan. Mereka juga paling gak suka kalau sesuatu yang harus menggunakan perasaan, karena mereka sendiri gak ngerti maunya apa dan merasakan apa. Sulit banget untuk jujur sama diri sendiri (terutama kalau salah). Manifestasinya jadi menyalahkan semua orang untuk menenangkan dirinya sendiri dan memaksakan kehendaknya ke orang lain. Buruknya lagi, sering meledak-ledak emosinya – suka tiba-tiba nangis sendiri gak jelas kenapa, misalnya.

Padahal, fungsi Fi sebenarnya adalah untuk menyeimbangkan Te-nya yang terlalu berorientasi pada benda dan logika, agar lebih fokus ke orang – setidaknya pada diri sendiri dulu. Fi akan memberikan konsiderasi lebih lanjut pada kebijakan Te agar lebih humanis, walaupun standar humanisnya juga subjektif, ya. “Kalau saya sendiri dikasih peraturan kayak gini bakal bagaimana ya responnya?”

Selain itu, Fi juga dibutuhkan untuk memberitahu Te bahwa orang bisa berbeda-beda, jadi jangan memaksakan satu aturan ke semua orang karena belum tentu efektif.

—ISTJ

MBTI in Depth: Part 5 (Te – Extroverted Thinking)

BAGAIMANA CARA KERJA Te?

Singkatnya: Memindai lingkungan di sekelilingnya → Mencari pola dan mengklasifikasikannya → Mencari letak “kesalahan” → Menciptakan pola dan struktur sendiri untuk memperbaiki lingkungan sekitar  agar lebih “masuk akal” (Membuat konsensus).

Te bekerja dengan memindai lingkungan di sekelilingnya, membuat pola dan struktur UNTUK BENDA YANG SUDAH ADA (bedakan dengan Ti ya – Te MEMBERI efek kepada benda di sekelilingnya, sedangkan Ti MENERIMA efek dari sekelilingnya; Te juga tidak mem-breakdown benda dan dianalisis satu persatu, dilihat secara keseluruhan saja!).

Dari pola-pola tadi, dicarilah letak “kesalahan”. “Kesalahan” yang dimaksud ditentukan oleh Si/Ni-nya – misal karena tidak sesuai dengan apa yang ia pernah tahu (Si) atau tidak sesuai dengan visi di masa depannya (Ni).

Dari “kesalahan” ini, Te akan menciptakan struktur berupa aturan atau langkah kerja yang praktis dan dapat diterapkan ke kehidupan sehari-hari UNTUK MENGUBAH LINGKUNGAN SESUAI DENGAN KEINGINAN. Maksudnya bagaimana? Yang namanya pola dan struktur pasti ada keteraturan dan kesinambungan, kan? Ya, jadi mereka membuat keteraturan pada benda-benda di sekelilingnya. Dia juga akan menciptakan langkah paling efisien agar tidak makan waktu dan sumber daya yang banyak. (Jadi bisa membenahi yang lain he he.) Makanya orang Te diidentikkan dengan kepemimpinan dan manajerial yang baik.

Sifatnya makroskopik (beda dengan Ti yang mikroskopik); yang kelihatan akan langsung diberesin, gak sibuk-sibuk dianalisis dulu. Lebih senang kalau langsung turun dan beresin sendiri, orientasinya aksi. Makanya, isi pikirannya orang Te biasanya simpel karena kebanyakan ‘perintilan’ akan mengganggu performa kerja, ngelama-lamain. Selain itu, karena makroskopik, Te ingin definisi suatu hal dijadikan suatu konsensus (kesepakatan bersama) – maksudnya semua orang harus paham dengan 1 definisi yang sama. “Aturan itu sudah jelas. Semua sepakat. Buat apa ditanya-tanya lagi?”

Seringnya, Te akan berulang kali memastikan orang bahwa orang lain sudah mengerti dengan maksudnya. Cara bicaranya gamblang agar mudah dimengerti orang (beda dengan Ti yang banyak maksud di balik maksud), karena kalau ngomong berbelit-belit kan gak efisien.

Menurut Te, suatu hal itu tidak boleh bias dengan perasaan/pikiran sendiri, semua harus objektif (bisa dihitung, terukur, kuantitatif). Te akan selalu menagih “Mana buktinya?” Begitu pula dengan cara Te memberikan argumen, yaitu dengan memberikan bukti-bukti nyata.


Positifnya? Jelas, paling efisien, dan paling pintar cari cara dan gigih untuk mencapai tujuannya. Gak banyak basa-basi, aksi yang penting. Orangnya (kelewat) jujur juga, mintalah pendapat sama Te.


Jeleknya, Te suka memaksakan orang lain untuk ikut aturannya, padahal aturannya belum tentu bisa dipakai semua orang (ini karena fungsi perceivingnya bersifat introverted/subjektif, jadi yang ia ketahui itu ternyata belum tentu orang lain tahu). Tapi Te merasa karena dia melihat realita di luar juga dan mengatur sesuatu hal yang nyata di dunia luar, dia merasa aturannya itu berlaku untuk semua orang, tanpa berpikir kalau orang itu bisa berbeda-beda, tidak bisa digeneralisir (ini karena sifat makroskopisnya tadi, terlalu ‘big-picture’).

Selain itu, karena fokusnya benda, dia gak merhatiin ‘orang’ di dalam prosesnya. Jadi mereka ada kecenderungan untuk blak-blakan apa adanya sesuai dengan kenyataan di lapangan, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Diperparah dengan Fi yang menuntut kejujuran. “Ya memang itu kenyataannya, mau ngomong apa? Jangan sakit hati, dong.”

Ada lagi nih, sering mencari-cari kesalahan! Kalau dilakukan ke diri sendiri, jatuhnya gak percaya diri; kalau ke orang lain jatuhnya kayak orang salah mulu dan malah merasa dikerdilkan terus.


BAGAIMANA CARA KERJA Te DI URUTAN YANG BERBEDA?

Te-dom (ENTJ, ESTJ): Tujuan Te-nya adalah untuk membuat dunia ini jauh lebih efisien dan teratur. Jadi, mereka akan jauh lebih fokus untuk membuat aturan dan langkah-langkah untuk membuat hal ini tercapai. Untuk tujuan pribadi hidupnya sendiri ditentukan oleh fungsi perceiving-aux nya (Ni atau Si). Jangan heran kalau tipe ini lebih suka memimpin, karena memang jagonya membuat taktik yang efisien. Te-nya ini kadang sering dipakai seperti Fe, tapi tujuannya beda, kalau Fe untuk membuat orang lain nyaman, kalau Te untuk mendekati orang agar orang tersebut membantu dia ke depannya dalam mencapai tujuannya (agak manipulatif yahhh).

Te-aux (INTJ, ISTJ): Te digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan hidupnya. Karena Te-nya tidak dominan, biasanya Te-nya lebih digunakan untuk diri sendiri, tidak terlalu memaksakan aturannya ke orang lain kecuali memang penting. Biasanya lebih pasif juga, lebih menimbang-nimbang untuk mengambil posisi kepemimpinan.

Bedanya Te-dom dan aux apa dong? Kalau Te-dom yang penting aksi dulu baru melihat dari keadaan yang ada, dibuatlah tujuan yang realistis dari masalah-masalah yang dia temukan. Kalau Te-aux harus ada tujuannya dulu. Jadinya Te-aux biasanya jauh lebih hati-hati dan tidak seterbuka itu pada mengatur-atur kecuali memang bidang yang akan membantu memenuhi tujuannya. Karena fokusnya Te-aux lebih ke menyusun rencananya dan tujuannya jadi Te hanya dikeluarkan jika tujuannya sudah pasti. Te-dom lebih fleksibel.

Te-tert (ENFP, ESFP): Seringnya muncul untuk menutupi insecurities dalam hatinya (Fi). Jadi munculnya ketika stres. Biasanya untuk melupakan kesedihannya, mereka secara impulsif mengejar dan melakukan sesuatu yang menurut mereka menarik. Bahkan bisa jadi bossy/manipulatif, bahkan bisa menghalalkan segala cara juga demi mendapatkan apa yang dia mau, agar tidak sedih lagi. Selain itu kadang Te malah digunakan untuk pembenaran atas sikap/pandangannya yang salah. “Loh, kenyataannya kan X, kenapa aku harus berubah pikiran? Buktinya A, B, C… Kaku amat!” Padahal itu bukti bahwa ia sulit mematuhi aturan saja. Fi-nya berusaha mencari bukti objektif untuk membela argumennya.

Seharusnya Te bisa membantu Fi untuk menunjukkan bahwa moral yang dipegang teguh sekarang harus dikonfirmasi ke banyak sisi (jadi jangan berpaku sama moral sendiri saja, harus diupdate) dan dijadikan aturan bila memang bagus untuk diterapkan ke banyak orang. Te juga dapat memberikan arahan yang jelas dan terstruktur mengenai tujuan hidup para ENFP dan ESFP serta tidak berpaku pada kekurangan diri dan belajar menanggulanginya dengan hal nyata yang bisa dilakukan.

Te-inf (INFP, ISFP): Biasanya muncul dalam bentuk proyeksi ke orang lain karena merasa tidak memiliki Te yang cukup. Fi sebenarnya menyimpan banyak kekecewaan pada diri sendiri dan mereka tahu bahwa mereka tidak punya cukup kekuatan (kepercayaan diri) untuk membuat dirinya terlihat kuat di mata orang, sehingga biasanya mereka muncul sebagai orang yang bossy dan menganggap dirinya/moral yang dimilikinya paling sempurna dan orang lain payah sambil terus mengkritisi orang lain agar tidak dinilai lemah. Padahal sebenarnya orang Fi sering iri pada Te-dom yang percaya diri dan punya tujuan yang pasti.

Te harusnya dapat membantu Fi untuk tidak berpikir terlalu berlebihan dan menyalahkan diri sendiri karena buang-buang waktu dan tidak akan berdampak apa-apa pada dirinya. Daripada tenggelam dalam perasaan bersalah/tidak berguna, lebih baik melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Selain itu dapat menyadarkan Fi untuk lebih fleksibel pada moralnya, karena belum tentu moral seperti itu dapat diterapkan di dunia nyata.

-ISTJ