Ramalan MBTI Hari Ini

SEKALIKALI SAMPAH GAPAPA KAN HAHAHAHA

INFJ: Keadilan sosial dapat diperjuangkan bersama. Kurang-kurangi spam TL dengan dakwah.

ISTP: Kurangi pengeluaran karena keuangan kamu akan seret seperti biasa.

INTP: Banyaklah bersyukur karena peredaran darah kamu semakin lancar hari ini.

ENTJ: Kurangi emosi kamu jika kamu tidak ingin cepat keriput.

ENFJ: Hati-hati, teman kamu pengkhianat!

ESTJ: Wah, kamu akan menjadi daddy para kaum hawa butuh cinta.

ISFJ: Kamu akan menghadapi cekcok dengan keluarga. Tetap cintai ususmu dan bersabar, ini ujian.

INTJ: Hidup ini adalah anugrah, hidup ini indah. Awali harimu dengan boker.

ENTP: Jangan bacot.

ESTP: Jangan terlalu sering bermain api — baik secara harafiah dan metafor.

ENFP: Jangan lewatkan sarapanmu hari ini.

INFP: Sebaiknya mengurangi perasaan yang berlebihan sebab dapat menyebabkan jatuh dari tangga.

ISFP: Jangan biarkan kamarmu berantakan.

ESFP: Hati-hati di internet. Polisi sosial media mengawasi.

ESFJ: Bergosip memang mempererat pertemanan, namun jangan lupa karma itu ada.

ISTJ: Kamu bakal stres karena hidup memang tidak sempurna, jangan biarkan ini mengganggumu!

-original works of admin who basically looking for any tubir and demands of substantial post from ppl like u guys.

MBTI dan Gender: Cowok Feeler dan Cewek Thinker

“Cowok sama cewek tuh beda. Cowok mikir pake otak, kalo cewek pake perasaan.”

Kalian pasti pernah denger kalimat semacam ini dalam kehidupan sehari-hari. Konsep ini sudah diyakini oleh kebanyakan orang selayaknya fakta, terutama di dalam masyarakat dengan budaya patriarkis yang memegang teguh peran gender tradisional seperti di Indonesia. Bahwa diasumsikan perempuan itu perasa dan laki-laki itu pemikir sejak lahir.

Lalu, gimana dengan orang-orang yang nggak sesuai dengan stereotipe gender seperti cewek galak dan frontal dan cowok yang super perhatian dan gampang tersentuh? Pasti kalian pernah berhadapan dengan orang-orang seperti ini. Nah, kali ini admin ingin membahas soal cowok Feeler dan cewek Thinker dalam konteks MBTI, bagaimana mereka dipandang masyarakat, dan bagaimana mereka berkembang sebagai individu ketika budaya bersinggungan dengan kepribadian mereka.

Sebenernya ada berapa banyak, sih, cowok Feeler dan cewek Thinker di sekitar kita? Dan apa benar lebih banyak cowok Thinker dan cewek Feeler dibanding sebaliknya? Jawabannya, ya. Preferensinya memang benar bahwa perempuan lebih banyak yang Feeler dan laki-laki lebih banyak Thinker. Perbandingannya kurang lebih 60:40 untuk Thinking pada laki-laki dan Feeling bagi perempuan, yang berarti cowok Feeler dan cewek Thinker bisa disebut sebagai minoritas di gendernya masing-masing.

This slideshow requires JavaScript.

Lalu, apa pengaruhnya? Budaya di sekitar kita lahir sebagai dampak dari preferensi mainstream atau mayoritas populasi di sekitar kita. Misalnya, di dunia ini lebih banyak Sensors dibanding iNtuitives—dengan SJs di peringkat pertama dan SPs di peringkat kedua. Dampaknya, budaya kehidupan sehari-hari kita cenderung fokus dengan dengan kehidupan masa kini dan lebih mempentingkan praktikalitas/reliabilitas alih-alih mereka-reka masa depan dan konsep-konsep abstrak. Kita lebih sering diajak untuk bersikap “work hard and strive for success” (mayoritas SJ) dibandingkan “question everything and seek the truth” (NT sebagai populasi paling sedikit).

This slideshow requires JavaScript.

Begitu juga dengan Thinking vs. Feeling. Karena Feeling identik dengan perempuan dan Thinking dengan laki-laki, budaya terbentuk sedemikian rupa. Maka, lahirlah nilai bahwa perempuan itu peduli dan sensitif dan laki-laki itu rasional dan cuek. Terus, gimana dong, sama mereka yang nggak seperti kebanyakan? Tentunya mereka akan cenderung berhadapan dengan pengalaman, perlakuan dan perkembangan yang berbeda dari kebanyakan.

Cewek Thinker biasanya rentan dinilai sebagai banyak hal mulai dari sombong, judes, sampai dipertanyakan femininitasnya. Begitu juga dengan cowok Feeler, biasanya lebih hebat lagi tantangannya karena budaya kita biasanya memandang remeh cowok yang perasa karena kalau cowok menampilkan emosi secara bebas biasanya akan dicap lemah atau nggak laki banget. Some would even go as far as calling them names such as “gay” atau “banci”. Sehari-hari, mereka akan menerima tuntutan untuk bersikap lebih sesuai dengan mayoritas gendernya—to which the Thinker girl might say, “But I don’t give a damn what you think about me!” and the Feeler guy might ask, “But why must I be someone I’m not?”

Yang jadi pertanyaan: apa masalahnya? Sebenarnya kalau diteliti tidak ada masalah. Cuma lingkungan saja yang biasa merasa aneh dan akhirnya mengajak individu itu untuk berubah. Mereka biasanya akan diancam dengan berbagai hal: nggak laku lah, susah sukses, dll. Padahal kalau dilihat-lihat, preferensi Thinking vs. Feeling tidak menentukan hidup seseorang. Seperti Barack dan Michelle Obama yang merupakan pasangan ENFJ-ENTJ, mereka tetap bisa disegani rakyatnya dan berkarya sesuai kemampuannya.

Namun, hasil dari pandangan masyarakat yang berbeda ini biasanya akan membuat lawan dari fungsi cowok Feeler/cewek Thinker berkembang lebih dahulu dan membuat fungsi Thinking-Feeling lebih seimbang dibanding orang-orang yang preferensinya sesuai dengan mayoritas. Misalnya perempuan INTP akan mengembangkan Fe-nya karena lingkungannya lebih nyaman dengan perempuan yang ramah dan mengerti kebutuhan orang. Laki-laki ESFP juga akan didorong untuk mengembangkan Te-nya karena laki-laki diajak untuk memimpin dan bersikap objektif.

Tapi di sisi lain, perlakuan yang berbeda ini juga dapat membawa dampak buruk dan menghambat perkembangan. I think it wouldn’t be a surprise if INFP guys tend to be gloomy because they might feel like outcasts who don’t belong atau cewek ESTP yang dianggap terlalu kasar dan liar, akhirnya kemampuan mereka malah tidak tersalurkan dengan baik. Masalah lain adalah orang-orang ini dapat membangun persona sebagai topeng agar tidak dikecam orang lain yang mungkin malah mengganggu perkembangan kepribadiannya. Nggak menutup kemungkinan juga cowok Feeler dan cewek Thinker akan mistyped dalam MBTI.

But the point is it’s okay if you’re not like most people of your gender; it doesn’t make you have any less worth. Cowok Feeler biasanya akan dinilai lebih karismatik dan membangun relasi yang kuat dengan orang-orang di sekitarnya karena orang merasa nyaman. Sementara cewek Thinker biasanya dikagumi karena pendiriannya dan kemampuan problem-solvingnya, so they can be drama-free. Bukan masalah kalau beberapa laki-laki berasal dari Venus, sementara beberapa perempuan datang dari Mars. You do you.
—INFJ🌙

 

Sources & further reading (check them out for more exact datas and interesting discussions combining MBTI and gender):
http://www.slayerment.com/mbti-gender
http://www.truity.com/blog/feeler-men-and-thinker-women
https://marissabaker.wordpress.com/2015/04/20/thinking-women-and-feeling-men/

MBTI Type Compatibility?

DON’T

LET

MBTI

HOLD

YOU

BACK.

Many times I’ve heard people ask “What is the most compatible type for my type?” “How do I find this compatible type and get them to like me?”

I think that’s pretty bull. Because despite certain MBTI types having some tendencies to click/clash quicker than some others, there’s this universal truth: your types don’t determine whether your relationship will succeed or fail.

I’ve seen a lot of opposite types married, lasting friendships between types that seem at odds with each other and break-ups that happen between types that are supposed to be “the perfect match” according to the MBTI.

Just because Hitler and I share the same type, doesn’t mean we’ll instantly become The Best of Pals™. Same thing if you’re an ISTJ who’s supposed to match with the ESFP, it’s no guarantee that you’ll find Awkarin alluring let alone a spouse candidate.

Isabel Briggs Myers herself, being an INFP, said that if she knew her husband was an ISTJ, she wouldn’t have married him. And that says a lot about being MBTI-selective, doesn’t it?

In the end, your types don’t matter in the long run. Some things actually are proven to matter more in relationships, such as having the same visions/goals, being on the same page in political matters, adopting similar lifetyles/habits, and more.

Don’t fuss so much about your potential partner/friend/co-worker/etc.’s MBTI type. Embrace human connections as they come. You’ll be surprised by what you find.

This has been a PSA by your friendly neighborhood INFJ. ✌

[META] How Typing Feels Like at Times

What started as a great tool to understand myself has also became a way to box many different and unique individuals into stereotypes, with me having prejudices towards them just because I know “someone with the same MBTI type who are an asshole” and such and such.

I know that people aren’t “only” their MBTI types, but sometimes it’s hard to see that way and I’m already used to pigeonholing people into several different categories just because it’s “really neat”.

I kinda stopped seeing people as unique individuals with their whole complexity which left me wondering about them. Nowadays it almost feel like “Oh s/he’s an XXXX? S/he must like bla bla bla and hate doing bla bla” “Are you sure you’re not mistyped? Because you don’t fit to the description of XXXX” “Man, you’re just a poser thinking that XXXX type is cool so you identify yourself as one”. Like there’s always an easy answer to understand the complexity of human and how people should fit into our fabric of understandings or else our reality shatters.

Well, I guess that’s what problematic with any pop psychology (or pop pseudo-psychology). It’s fun, but sometimes you sacrifice the depths of real psychology by boxing people into several neat categories with corresponding stereotypes.

Man, I just need to stop compulsively type people in my daily life and try to use it dalam batas wajar.

-INTP