Blog

MBTI in Depth: Part 9 (Se—Extroverted Sensing)

BAGAIMANA CARA KERJA Se?

Singkatnya: Menghadapi sesuatu → Dilihat secara detil → Dicari celah untuk beraksi (apakah bisa dilakukan sesuatu secara riil?) → Lompat ke aksi lain.

Se itu pengalaman sensoris yang OBJEKTIF. Maksudnya gimana? Se bener-bener ngerasain yang namanya pengalaman. Pokoknya live in the moment banget. Yang dicari adalah peluang untuk melakukan aksi selanjutnya. Se selalu akan MENCARI STIMULUS SENSORI BARU. Biasanya tipikal yang kurang suka lama-lama nunggu karena lebih baik melakukan sesuatu, gamau diem gitu, karena waktu tuh terlalu singkat. Se juga tipe yang aware sama lingkungan, karena seluruh lingkungan dia pindai untuk peluang aksi.

Se lebih suka mengikuti impuls yang muncul di kepalanya dan benar-benar melakukannya. Se juga orientasinya praktik, makanya lebih suka langsung coba aja daripada banyak mikir (Se yang Ni nya jelek biasanya lebih suka bertindak dulu baru mikir dampak ke depannya apa). Se juga benar-benar menikmati tiap sensasi yang ia rasakan di panca inderanya secara detil. Se juga sangat paham akan tubuhnya sendiri dan mengerti cara menggunakannya dengan baik. Karena pandangan Se berada pada luar dirinya, Se akan cenderung menyukai estetika dan apapun yang enak dipandang.

(NB: Gak heran kan kalo baca deskripsi Se tuh identik dengan balap mobil, barang mahal, boros, dugem apalah yang pokoknya memicu adrenalin banget. Tapi kenyataannya gak semua Se begini kok, yang penting adalah bagaimana cara ia mencari informasi.)

Se juga selalu update sama hal yang baru, gaboleh ketinggalan! Merekanya juga berubah terus, bisa dibilang Se yang 3 menit lalu bukanlah Se yang sekarang. Yang dicari adalah perubahan suasana riil. Makanya Se sering gampang terdistraksi sama hal baru. Se juga bukan cuma sekedar nyari hal baru, tapi ngejalanin apa yang ada secara maksimal sebelum pindah ke hal lainnya, “Live the life to the fullest”. Beda sama Ne, Se cenderung nyelesain apa yang dimulai.

Beda dengan Si yang semua pengalaman sensorik disimpan, Se merasa itu tidak perlu sehingga cenderung pelupa (NB: Kata Se-dom/aux, memori mereka kayak memori ikan lmao, yang diinget bagian serunya aja).

Se nantinya akan mempunyai pandangan realistis paling objektif pada dunia dan sesuai dengan fakta yang ada. Pandangan Se pada dunia akan sangat luas dan gak pilih-pilih. Kalau suruh seseorang yang bisa jelasin sesuatu secara gamblang dan detil, pilih Se. Soalnya Se pemerhati banget sampe ke hal-hal yang orang gak liat.


Bagusnya, Se adalah orang yang berani mengambil risiko. Karena yang dicari adalah perasaan tegang dan serunya. Se juga cenderung bergerak cepat dalam melakukan sesuatu karena haram hukumnya membuang-buang waktu, karena waktu yang terbuang bisa digunakan untuk mencari stimulus lain. Se juga pasti punya banyak pengalaman, jadi gak naif. Se juga tipe yang aktif.


Jeleknya, Se sering terlihat seperti tidak memiliki tujuan hidup karena menentukan cita-cita/tujuan akan membatasi geraknya (terutama yang Ni-nya tidak terpakai). Karena tidak ada tujuan, aksi yang dilakukannya juga tidak terencana, sehingga jika gagal, Se tidak punya cadangan rencana (tapi selalu bisa cari cara untuk kabur sih karena lebih peka pada sekeliling sehingga bisa cari celah).

Se juga sering diidentikkan dengan playboy/girl atau tidak punya teman yang tetap karena mengalami isu komitmen. Isu komitmennya karena selalu merasa bahwa di luar sana bisa saja ada yang lebih baik dan komitmen itu mengekang kebebasannya untuk mencari yang lain.

Se yang Ni-nya jelek, seperti telah disebutkan sebelumnya, sering gak berpikir dulu sebelum bertindak, jadinya kadang nyesel sendiri. Tapi untungnya karena cepet nangkep stimulus lain, sedihnya gak berlarut-larut.


BAGAIMANA CARA KERJA Se DI URUTAN YANG BERBEDA?

Se-dom (ESTP, ESFP): Mereka kerjanya cari pengalaman terus tanpa henti! Motto mereka itu “Life is too short” makanya mereka ke sana sini nyari pengalaman. Tujuan hidupnya adalah nyobain semua hal di bumi. Yang ngebedain adalah fungsi judging mereka, Ti/Fi. Ti akan cenderung mencari sesuatu yang dapat diproses menjadi pemahamannya tentang cara kerja sesuatu, sedangkan Fi akan mencari pengalaman yang akan membuatnya bahagia terus. Kalau Ni-nya gak berkembang, mereka bakal terlalu liar dan seakan gapunya tujuan hidup.

Se-aux (ISTP, ISFP): Mereka menggunakan Se mereka sebagai pencarian data yang dibutuhkan oleh Ti/Fi mereka. Se juga digunakan sebagai penggerak, namun tidak akan seaktif Se-dom. ISTP membutuhkan Se untuk mengumpulkan data agar nantinya ia bisa melakukan sesuatu dengan seefektif mungkin, dengan mempertimbangkan risk and benefit, dari menyortir ribuan cara yang bisa dilakukan. Se pada ISTP juga membuatnya untuk cenderung memilih ilmu yang dapat diaplikasikan di dunia nyata saja. ISFP membutuhkan Se untuk mendekati orang-orang sebelum membuat penilaian (Karena Fi-nya mau judge orang tersebut, Se-nya digunakan untuk mendapatkan info sebanyak-banyaknya dari orang tersebut sebelum akhirnya judge. Kalau dia gamau judge, ya ga akan dideketin sama sekali).

Se-tert (ENTJ, ENFJ): Se membuat ENTJ/ENFJ lebih cepat dalam mengambil peluang. Se-tert langsung secara impulsif mencari-cari dunia yang menurutnya ideal tanpa buang-buang waktu ketika sesuatu tersebut sesuai maupun tidak sesuai dengan ambisinya (Ni) (maksudnya, cepat datang kalau cocok, cepat pergi kalau gak cocok). Se-tert juga lebih nekat mendobrak batasan yang ada demi mencapai ambisinya (beda sama Ne-tert yang ingin mencari cara lain namun tetap aman namun tujuannya tetap sampai). Jeleknya, Se ini membuat ENTJ/ENFJ terlihat oportunis, licik, serta egois kalau tidak digunakan dengan benar. Mereka bisa saja melakukan sesuatu yang tidak wajar demi mencapai tujuannya.

Kalau lagi stres, bisa jadi mereka melakukan sesuatu yang biasanya habis itu mereka sesali. Sebenarnya, Se ini metode ENTJ/ENFJ untuk melegakan atau melampiaskan kekecewaannya. Mereka juga suka melupakan tujuan awal mereka melakukan itu – asal lakukan saja yang penting seneng!

Se-inf (INTJ, INFJ): Para Ni-dom mungkin akan menganggap bahwa dunia nyata ini tidak ideal sama sekali sehingga malas untuk menjamahnya. Namun, tanpa Se, para Ni-dom tidak bisa melakukan reality check. Karena Se-nya lemah, mereka suka tidak sadar melakukan sesuatu berulang-ulang kali demi tujuannya. Mereka akan buang-buang tenaga percuma karena kurang bisa mengukur seberapa mungkin peluang terjadinya dunia idealnya di dunia nyata. Bedanya dengan Se-tert, Se-tert biasanya lebih paham kapan harus berhenti karena sudah dirasa tidak efektif lagi (Te/Fe dom). Se-inf membuat penggunanya kurang sadar akan pentingnya untuk berhenti dan mencari alternative tujuan lain ketika sudah dirasa tidak mungkin. Bagus sih pantang menyerah, tapi apakah efektif dan berdampak baik bagi diri sendiri? Soalnya Se yang gak kepakenya bisa bikin liar banget untuk mencapai tujuannya, walaupun itu ngebahayain dirinya sendiri.

Se-nya akan muncul ketika stres dan dalam bentuk melarikan diri. Ia akan melakukan sesuatu yang nantinya akan ia sesali tanpa berpikir panjang (kehilangan fungsi sehat Ni). Mestinya, Se digunakan untuk memberi batasan realistis pada Ni dan membantu Te/Fe dalam menyusun langkah yang realistis dan efektif dan mendorong eksekusi untuk mencapai tujuannya. Se juga dapat memberikan opsi alternatif jika langkah yang dilakukannya tidak berhasil.

—ISTJ

MBTI in Depth: Part 8 (Si—Introverted Sensing)

BAGAIMANA CARA KERJA Si?

Singkatnya: Mengalami/melihat/merasakan sesuatu → Dimaknai secara subjektif (biasanya punya cara mengingat sendiri berdasarkan kesan yang ditangkap saat itu) → Dipilah-pilah berdasarkan kategori → Disimpan dalam memori → Sebelum bertindak, akan mencari dulu pengalaman sebelumnya yang sudah disimpan.

Si itu pengalaman sensoris yang SUBJEKTIF. Maksudnya gimana? Jadi Si menyimpan segala sesuatu yang dialaminya SESUAI DENGAN KESAN YANG IA TERIMA SAAT ITU, yang mungkin beda dari kenyataan aslinya. Ingat, yang disimpan KESAN, bukan kejadian aslinya. Oleh karena itu, Si kurang baik dalam menjelaskan kenyataan yang objektif secara gamblang seperti Se, karena yang dijelaskan adalah hal yang menurut Si berkesan saja. Si juga memilih-milih pengalaman mana yang berkesan baginya.

Inilah yang membuat Si diidentikkan dengan kaku, karena jika Si tidak menyimpannya atau tidak mengalaminya, hal itu tidak pernah terjadi. Contoh, jika biasanya Si mengalami A, Si tidak akan memikirkan kemungkinan terjadinya B dan C karena B dan C tidak nyata bagi Si. Gampangnya, Si kayak pake kacamata kuda, cuma lihat apa yang bisa dilihat aja.

Selain itu, karena mereka mengambil kesan dari dunia sekitar, mereka berpikir bahwa seluruh dunia seperti itu, tanpa mencari sumber lain atau crosscheck terlebih dahulu. Si cenderung menggeneralisir sesuatu.

Kenapa Si berpaku sama pengalaman? Karena Si merupakan fungsi perceiving (pengambilan data) yang introverted, jadi sumber satu-satunya yang bisa diambil adalah pengalaman pribadinya. Karena pengalamannya bersifat subjektif/pribadi, maka informasi yang didapat oleh masing-masing orang dengan Si dapat berbeda-beda, sehingga memengaruhi manifestasi perilaku yang dikeluarkan oleh pengguna Si. Jangan pikir semua Si sama perilakunya!

Setelah mengumpulkan informasi, Si akan mengkategorisasikan informasi tersebut berdasarkan persamaannya secara umum. Lalu, mudahnya, informasi-informasi serupa tersebut dimasukkan ke dalam lemari folder besar sesuai kategorinya. Seperti perpustakaan. Nantinya, jika dibutuhkan, Si akan mencari data-data yang dibutuhkan di “lemari” tersebut. Jika pengalaman tersebut baru untuk pengguna Si, wah, kacau dunia. Kuncinya adalah mencari data yang FAMILIAR.

 

Dari informasi-informasi tersebut, mereka biasanya akan membentuk pola yang akhirnya akan membentuk suatu kesimpulan cara kerja dunia secara UMUM. Gampangnya anggaplah informasi seperti kepingan puzzle, yang nantinya akan disusun-susun hingga membentuk suatu gambaran besar. Karena ini juga, Si sering dibilang detil, karena untuk membentuk gambaran besar, dibutuhkan banyak kepingan puzzle spesifik. Dari gambaran cara kerja dunia secara umum, pengguna Si biasanya akan menentukan definisi “normal” bagi hidupnya berdasarkan informasi lampau yang diterimanya.

Si selalu membutuhkan kepastian dalam bentuk informasi yang konkrit sebelum Si berani mengambil keputusan via Te atau Fe nya. Sebab itu, Si memiliki kecenderungan untuk mencari sesuatu yang aman (inti dari Si adalah SECURITY) dan gak berani ngambil risiko. Makanya Si sering dibilang membosankan karena terlalu datar hidupnya (padahal gak semuanya begitu).

(NB: Sebenernya agak kontradiktif. Si selalu takut melangkah karena butuh banyak informasi, tapi gak secara aktif mencari informasi tersebut, makanya stuck di tempat.)

Apakah memori orang dengan Si-dom/aux baik? Sebenarnya cukup baik, namun karena yang disimpan adalah kesan, bukan hal realnya, jadi kadang memorinya suka tidak tepat. Bener emang ada kejadian begitu tapi kadang detilnya berubah sesuai dengan kesan yang ditangkap oleh Si. Jadi jangan aneh kalau Si-dom/aux kadang suka melenceng ingatannya atau lupa (karena gak berkesan). Tapi kalau sekalinya ingat, wah, detil banget.


Bagusnya, pengguna Si biasanya detil banget. Selain itu, pengguna Si juga seringnya mudah bersyukur, gak neko-neko, karena mereka menerima apa yang ada di dunia ini apa adanya. Semua pekerjaan yang dikasih ke pengguna Si biasanya dikerjain karena mereka menganggap bahwa hal itu yang memang seharusnya dikerjakan tanpa banyak mikir lagi. Yaa jalanin aja hidup seadanya begini. Oleh karena seperti yang banyak paham tentang dunia yang normal gimana dan menjalani kehidupan dengan apa adanya, pengguna Si biasnaya dianggap lebih dewasa dan bijaksana. Selain itu, Si cenderung konsisten karena selalu membandingkan dengan yang sudah pernah sebelumnya, serta setia karena malas mencari lagi hahahaha.


Jeleknya, Si terlalu berhati-hati! Sebenernya ini pedang bermata dua sih. Sisi bagusnya, Si bakal mengerjakan semuanya dengan tidak tergesa-gesa sehingga kualitas pekerjaannya terjamin. Tapi kehati-hatian ini bikin Si kurang pengalaman, sulit adaptasi, serta lamban.

Karena kecenderungan Si untuk mencari pengalaman sebelumnya, seringnya sih Si males cari pengalaman baru atau memikirkan kemungkinan apa yang terjadi di luar informasi yang sudah didapatkan sebelumnya, jadi cenderung berpikiran tertutup. Kadang ada bagusnya mempertahankan apa yang sudah ada, tapi kan dunia terus berubah, jadi harus menyesuaikan diri. Jadinya pasif juga, kurang mau inisiatif.

Karena selalu berpaku sama pengalaman, Si sering takut sama masa depan. Takut karena masa depan itu adalah hal yang belum terjamah dan memikirkan kemungkinan-kemungkinannya aja udah males, jadi selalu memikirkan kemungkinan terburuknya terus alias pesimis (ini karena Ne nya paling bawah sih jadi cenderung negatif). Ini juga sebenernya yang membuat Si sering over-prepared sama sesuatu (makanya cenderung terencana) karena takut terjadi apa-apa nantinya. Si gak suka banget kalo melakukan sesuatu tanpa rencana karena takut salah langkah. Terlalu lihat ke belakang juga bikin Si cenderung membanding-bandingkan dan sulit move on dalam berbagai hal.

—————

BAGAIMANA CARA KERJA Si DI URUTAN YANG BERBEDA?

Si-dom (ISTJ, ISFJ): Mereka lebih suka mengumpulkan sebanyak mungkin informasi terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Yang membedakan dari ISTJ dan ISFJ adalah fungsi judging mereka, Te/Fe, seperti yang sudah dijelaskan di post sebelumnya. Tujuan hidupnya adalah untuk menjadi senormal mungkin (definisi ‘normal’ mereka subjektif banget, cuma biasanya sih sesuai dengan norma/aturan yang ada di lingkungannya). Kalau Ne-nya tidak berkembang, mereka bakal jadi super kaku dan takut sama masa depannya, sulit berubah. Hati-hati terlena sama comfort zone!

Si-aux (ESTJ, ESFJ): Mereka menggunakan Si sebagai panduan hidup dalam aksi-aksinya. Oleh karena mereka lebih berorientasi pada aksi daripada mengumpulkan informasi, mereka biasanya lebih kaku dalam menggunakan Si mereka (terutama kalau Ne-nya belum berkembang). Kesannya jadi memaksakan apa yang mereka ketahui sebelumnya karena memang itu yang seharusnya semua orang lakukan dan dengan seenaknya judge orang kalo misalnya gak sesuai dengan apa yang menurut dia normal. Padahal kan pengalaman, background, nilai-nilai tiap orang beda-beda, gak bisa digeneralisir.

Si-tert (INTP, INFP): Biasanya dipakai untuk menjadi bahan refleksi, tapi karena munculnya dengan cara yang jelek, Si nya malah memberi umpan informasi yang jelek-jelek dan malah bikin INTP dan INFP makin stres dan over-analyzing things. Yang lebih disalahkan adalah masa lalunya, bukan dirinya sendiri.

Kalau diumpamakan, informasinya disimpan acak-acakan begitu saja di kepalanya karena Ne-nya, tapi mereka selalu tau di mana mereka mencari informasi tersebut jika dibutuhkan. Kalau lagi stres, tiba-tiba mereka teringat sesuatu hal spesifik dan malah stuck di situ – terlalu menganalisis suatu kejadian spesifik di masa lampau. “Inget gak waktu <pengalaman buruk>? Ya ampun, lo bodoh/jahat banget sih!!”
Selain itu, munculnya dengan cara menjadi terlalu sempit dalam memandang dunia. INTP dan INFP akan sangat mendalami apapun yang menurut mereka menarik, tapi menutup mata pada hal yang menurutnya tidak penting atau tidak menarik, walaupun mereka bisa tertarik pada banyak hal dan selalu berubah-ubah karena Ne-nya.

Si-inf (ENTP, ENFP): Para Ne-dom ini biasanya menganggap Si tidak penting karena terlalu kaku dan membatasi kemungkinan. Tapi ini juga yang sering bikin mereka selalu mengulangi kesalahan yang sama karena tidak ingat pada kejadian yang lampau. Mestinya, Si ini digunakan untuk memberhentikan Ne ketika berusaha mengejar kemungkinan yang tidak mungkin – karena sebelumnya sudah pernah gagal, misalnya, atau secara nyata tidak mungkin terjadi (reality check). Selain itu, Si juga dapat mengingatkan Ne untuk fokus pada 1 hal saja dan mendalaminya, supaya tidak lompat-lompat dan menyelesaikan apa yang ia mulai. Tapi jangan salah, sebenernya kalau sudah merasa nyaman atau “klik”, Ne-dom susah move on. Maksudnya dia bakal tetep playful tapi inget ke mana dia harus pulang.

Kalau muncul biasanya juga dengan cara yang sangat buruk, yaitu dengan berpikir kalau tidak ada acara lain dalam menyelesaikan sesuatu dan berpikir kalau masa depannya suram. Jadi pesimis, mikir semuanya sia-sia, dan takut bergerak maju. Selalu terngiang-ngiang pengalaman buruk yang bikin dia kayak gini dan gagal buat mikirin kemungkinan apa aja yang bisa muncul dari hal itu. Hati-hati depresi. Selain itu, Si-nya kadang digunakan untuk mendendam (ini muncul pada saat tidak sehat).
—ISTJ

In the Grip: Di Saat Fungsi Inferior Mengambil Alih (Part 2)

Sebelumnya kita pernah bahas mengenai “grip” dari fungsi inferior dan cara menghadapi stres yang ngebuat fungsi inferior tersebut termanifestasi secara negatif (coba cek tagar #MBTIAnalysis). Lalu gimana kalo kondisi “grip” tersebut bukan disebabkan oleh stres?

Jarang sih, tapi bisa aja, mungkin karena faktor lingkungan yang maksa kamu make fungsi inferior kamu secara terus menerus, atau mendadak kamu “lupa” aja buat manfaatin fungsi kamu yang sebenernya lebih dominan.

Dalam kasus ini mungkin solusinya kamu bisa mulai mencoba lagi “mendominankan” fungsi-fungsi dominan kamu. Caranya:
ISxJ (Si-dom): Pikirin hal-hal yang udah terjadi dan coba kamu ingat-ingat detail dan informasinya. Jangan ngehindar dari mikirin hal-hal berat yang pernah kamu alami, tapi hadapin aja, pada akhirnya pasti ada pelajaran yang bisa kamu tarik. Pahami kalau ingatan kamu itu subjektif berdasarkan interpretasi internal dari hal-hal yang kamu hadapi, dan bukan rekaman yang selalu super akurat.
ESxP (Se-dom): Perhatiin dunia di sekitar kamu. Jangan terlalu mengekang impuls yang ada dan coba buat nikmatin momen-momen yang ada. Lakukan hal-hal yang bersifat fisik yang memaksa kamu untuk fokus pada tubuh, gerakan kamu, dan lingkungan sekitar kamu.
IxFP (Fi-dom): Jangan repress perasaan kamu. Coba pikirin baik-baik dan proses lebih lanjut. Jalani hidup sesuai nilai-nilai kamu, jadi individualis kalo perlu. Ambil perhatian lebih pada emosi kamu, kenapa kamu suka atau benci pada berbagai hal dan alasan di balik itu apa.
INxJ (Ni-dom): Visualisasiin dan rancang masa depanmu baik-baik, dan mulai bekerja untuk mencapai suatu tujuan. Fokus pada suatu ide, proyek, atau konsep dan pahamin secara menyeluruh. Perhatiin firasat dan interpretasi kamu terhadap orang-orang dan berbagai situasi yang kamu hadapi.

 

ENxP (Ne-dom): Cari ide-ide kreatif dari tontonan, bacaan yang kamu konsumsi. Isi otak kamu dengan berbagai ide dan jangan batasi pikiran kamu pada satu dua jenis pemikiran aja. Buat koneksi antara hal-hal yang sekilas keliatannya ga berhubungan. Lakukan hal-hal kreatif, entah itu seni, musik, tulisan, dan coba bikin seorisinil mungkin. Buka perspektif kamu pada orang-orang dan ide-ide baru sehingga pandangan kamu lebih luas lagi dan ga bias.
IxTP (Ti-dom): Pahami cara sesuatu bekerja. Coba analisis baik-baik gimana proses pikiranmu bekerja, dan cari pola-pola konsisten dari proses pemikiranmu. Tanya hal-hal yang kamu ga ngerti. Cari maksud dari hal-hal yang ada: “Kenapa dan apa gunanya gue ngelakuin ini?” “Kenapa hal ini kerjanya kayak gini dan apa gunanya?” dst.
ExTJ (Te-dom): Atur kamar kamu, meja kamu, buku-buku kamu. Bikin list dan ceklis hal-hal yang udah kamu kerjain. Atur deadline dan buat diri kamu lebih disiplin biar bisa menuhin deadline tersebut. Buat sesuatu yang berguna dan dapat memperbaiki sistem yang ada. Coba lebih efisien. Belajar mendelegasikan dan mengatur orang serta cara bicara sama mereka untuk mencapai sesuatu. Praktekin kepemimpinanmu kalo perlu.
ExFJ (Fe-dom): Coba untuk lebih berhubungan secara emosional dengan orang lain dan sering-sering muji orang, bicarain perasaan dan interest kamu ke mereka. Jangan keseringan nyimpen perasaan kamu apalagi jadi pasif-agresif kalo orang-orang ga memenuhi standar kamu, tapi coba bicarain langsung sama mereka secara halus. Gunain emosi kamu kalo lagi bicara dengan orang-orang.
Oh iya tips-tips di atas juga bisa berguna buat kamu yang pengen nyoba ngembangin fungsi-fungsi non-dominan kamu.

 

-INTP

[MBTI Spotlight of the Day] Pasangan Calon Pilgub DKI Jakarta 2017

Hello, fellas!!
How was the election?
Did you vote for your leader?
Well, the election day has passed, so it’s safe and neutral enough for us to post this article, our analysis of the candidates contesting on the hottest sexiest local election ever, the Special Capital Region of Jakarta Election 2017.

We objectively analyzed the tape of the debates held by the Election Committee (KPUD) and also the tape of some interviews from the candidates held by some TV stations. We also include our previous analysis of the incumbent governor.

Regards,

Admin ISTJ-ENTP-ENTJ

This slideshow requires JavaScript.


Here’s the link of the tape we analyzed:

AHY:
https://www.youtube.com/watch?v=bEcpdbUumm8 // https://m.youtube.com/watch?v=rbGZJRR2Ra0

Sylvi:

Djarot:

Anies-Sandi:

Anies:

Sandi:

Debat Pilgub 2017 1-3

[MBTI Spotlight of the Day: Valentine’s Day Edition] Kimi No Na Wa – INTJ x INFP

!SPOILER ALERT!

Since it’s Valentine’s Day, we present to you a short MBTI analysis of one of the hottest couples in anime: TAKI AND MITSUHA FROM KIMI NO NA WA (YOUR NAME).

Taki Tachibana

An INTJ, Taki has always had a singular vision: to become an architect (Ni). He’s always been very ambitious when it comes to attaining his goals, making a good use of his Te along the way. Of course, until meeting (and later, losing) Mitsuha triggers his developing Fi in the process. He begins to develop a sense of attachment towards Mitsuha (he even tries to make her life better using his Te), leading him into a prolonged state of Se grip when she “disappears” (impulsively going on a trip to look for Itomori even though 1) he doesn’t know where it is and what the town is called 2) the only clue he has is a drawing of the town 3) he’s never even met Mitsuha before) and later a Ni-Fi loop when he finds out that the girl he’s been switching bodies with is no more, yet still decides to look for her due to his lack of Te at this point of the movie. Moving on from there, Taki, using his Ni, suddenly realises that there’s still a way that he can save Mitsuha from dying – and he utilises his Te and Se to formulate a rescue plan (which succeeds in the end), and his Te to effectively lead Mitsuha’s friends in executing his plan. Yet, his inferior Se doesn’t seem to stop there. It shows up again at the end of the movie, where it is shown that the low demand for architects in Tokyo makes it unrealistic for Taki to pursue his dream. Nevertheless, Taki is still one of the few examples of a healthy INTJ in fiction, no matter how unrealistic or absurd he gets in the movie.


Mitsuha Miyamizu

As an INFP, the most noticeable thing about Mitsuha is her Fi-Si loop. She makes it clear that she dislikes Itomori and its strict traditions by shouting “I HATE THIS TOWN!” several times during the course of the movie. At first, she shows strict adherence to tradition and avoids confrontation, making her appear to be an ISFJ at a glance. However, an ISFJ would not hold any resentment to upholding tradition and social expectations. Mitsuha is not content in Itomori because she feels that the town is holding herself back yet she does not dare to break its traditions, thus leading her auxiliary Ne to act out and dream of a life in Tokyo. 1) Mitsuha has never lived in Tokyo, nor 2) does she have any tangible idea on what she plans on doing once she arrives in Tokyo. It further emphasizes that her aspirations to live in Tokyo is simply the manifestation of the much neglected Ne.

Her inferior Te is underdeveloped. She is incapable of standing up for herself, allowing herself to be pushed around by her father and her class mates. Her confrontation with her father over the news that Itomori might be hit by the meteor goes poorly because she is not able to stand her ground and articulate herself well. Likewise, had she developed Te, she would not be as unhappy as she is, because it is her inability to reach out for what she wants that results in the Fi-Si loop. She develops her extroverted auxiliary and inferior function after switching body with Taki, being able to convince her Father to evacuate the town and saving it from destruction.

Though they are not a couple until the very end of the movie, they bear the markings of a healthy relationship. Both are able to establish and respect each other’s boundaries, readily help the other overcome difficulties in their lives and communicate in an earnest manner. Taki teaches Mitsuha to develop her repressed extroverted functions, while Mitsuha prompts Taki to develop his Fi by being setting up a date for him and later his affection for Mitsuha. Though Taki’s impulse to seek for Mitsuha is the result of Se grip – and grips tend to be malicious in nature – it saves Mitsuha and the people of Itomori.

– Admins ENTJ & INTJ