MBTI in Depth: Part 5 (Te – Extroverted Thinking)

BAGAIMANA CARA KERJA Te?

Singkatnya: Memindai lingkungan di sekelilingnya → Mencari pola dan mengklasifikasikannya → Mencari letak “kesalahan” → Menciptakan pola dan struktur sendiri untuk memperbaiki lingkungan sekitar  agar lebih “masuk akal” (Membuat konsensus).

Te bekerja dengan memindai lingkungan di sekelilingnya, membuat pola dan struktur UNTUK BENDA YANG SUDAH ADA (bedakan dengan Ti ya – Te MEMBERI efek kepada benda di sekelilingnya, sedangkan Ti MENERIMA efek dari sekelilingnya; Te juga tidak mem-breakdown benda dan dianalisis satu persatu, dilihat secara keseluruhan saja!).

Dari pola-pola tadi, dicarilah letak “kesalahan”. “Kesalahan” yang dimaksud ditentukan oleh Si/Ni-nya – misal karena tidak sesuai dengan apa yang ia pernah tahu (Si) atau tidak sesuai dengan visi di masa depannya (Ni).

Dari “kesalahan” ini, Te akan menciptakan struktur berupa aturan atau langkah kerja yang praktis dan dapat diterapkan ke kehidupan sehari-hari UNTUK MENGUBAH LINGKUNGAN SESUAI DENGAN KEINGINAN. Maksudnya bagaimana? Yang namanya pola dan struktur pasti ada keteraturan dan kesinambungan, kan? Ya, jadi mereka membuat keteraturan pada benda-benda di sekelilingnya. Dia juga akan menciptakan langkah paling efisien agar tidak makan waktu dan sumber daya yang banyak. (Jadi bisa membenahi yang lain he he.) Makanya orang Te diidentikkan dengan kepemimpinan dan manajerial yang baik.

Sifatnya makroskopik (beda dengan Ti yang mikroskopik); yang kelihatan akan langsung diberesin, gak sibuk-sibuk dianalisis dulu. Lebih senang kalau langsung turun dan beresin sendiri, orientasinya aksi. Makanya, isi pikirannya orang Te biasanya simpel karena kebanyakan ‘perintilan’ akan mengganggu performa kerja, ngelama-lamain. Selain itu, karena makroskopik, Te ingin definisi suatu hal dijadikan suatu konsensus (kesepakatan bersama) – maksudnya semua orang harus paham dengan 1 definisi yang sama. “Aturan itu sudah jelas. Semua sepakat. Buat apa ditanya-tanya lagi?”

Seringnya, Te akan berulang kali memastikan orang bahwa orang lain sudah mengerti dengan maksudnya. Cara bicaranya gamblang agar mudah dimengerti orang (beda dengan Ti yang banyak maksud di balik maksud), karena kalau ngomong berbelit-belit kan gak efisien.

Menurut Te, suatu hal itu tidak boleh bias dengan perasaan/pikiran sendiri, semua harus objektif (bisa dihitung, terukur, kuantitatif). Te akan selalu menagih “Mana buktinya?” Begitu pula dengan cara Te memberikan argumen, yaitu dengan memberikan bukti-bukti nyata.


Positifnya? Jelas, paling efisien, dan paling pintar cari cara dan gigih untuk mencapai tujuannya. Gak banyak basa-basi, aksi yang penting. Orangnya (kelewat) jujur juga, mintalah pendapat sama Te.


Jeleknya, Te suka memaksakan orang lain untuk ikut aturannya, padahal aturannya belum tentu bisa dipakai semua orang (ini karena fungsi perceivingnya bersifat introverted/subjektif, jadi yang ia ketahui itu ternyata belum tentu orang lain tahu). Tapi Te merasa karena dia melihat realita di luar juga dan mengatur sesuatu hal yang nyata di dunia luar, dia merasa aturannya itu berlaku untuk semua orang, tanpa berpikir kalau orang itu bisa berbeda-beda, tidak bisa digeneralisir (ini karena sifat makroskopisnya tadi, terlalu ‘big-picture’).

Selain itu, karena fokusnya benda, dia gak merhatiin ‘orang’ di dalam prosesnya. Jadi mereka ada kecenderungan untuk blak-blakan apa adanya sesuai dengan kenyataan di lapangan, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Diperparah dengan Fi yang menuntut kejujuran. “Ya memang itu kenyataannya, mau ngomong apa? Jangan sakit hati, dong.”

Ada lagi nih, sering mencari-cari kesalahan! Kalau dilakukan ke diri sendiri, jatuhnya gak percaya diri; kalau ke orang lain jatuhnya kayak orang salah mulu dan malah merasa dikerdilkan terus.


BAGAIMANA CARA KERJA Te DI URUTAN YANG BERBEDA?

Te-dom (ENTJ, ESTJ): Tujuan Te-nya adalah untuk membuat dunia ini jauh lebih efisien dan teratur. Jadi, mereka akan jauh lebih fokus untuk membuat aturan dan langkah-langkah untuk membuat hal ini tercapai. Untuk tujuan pribadi hidupnya sendiri ditentukan oleh fungsi perceiving-aux nya (Ni atau Si). Jangan heran kalau tipe ini lebih suka memimpin, karena memang jagonya membuat taktik yang efisien. Te-nya ini kadang sering dipakai seperti Fe, tapi tujuannya beda, kalau Fe untuk membuat orang lain nyaman, kalau Te untuk mendekati orang agar orang tersebut membantu dia ke depannya dalam mencapai tujuannya (agak manipulatif yahhh).

Te-aux (INTJ, ISTJ): Te digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan hidupnya. Karena Te-nya tidak dominan, biasanya Te-nya lebih digunakan untuk diri sendiri, tidak terlalu memaksakan aturannya ke orang lain kecuali memang penting. Biasanya lebih pasif juga, lebih menimbang-nimbang untuk mengambil posisi kepemimpinan.

Bedanya Te-dom dan aux apa dong? Kalau Te-dom yang penting aksi dulu baru melihat dari keadaan yang ada, dibuatlah tujuan yang realistis dari masalah-masalah yang dia temukan. Kalau Te-aux harus ada tujuannya dulu. Jadinya Te-aux biasanya jauh lebih hati-hati dan tidak seterbuka itu pada mengatur-atur kecuali memang bidang yang akan membantu memenuhi tujuannya. Karena fokusnya Te-aux lebih ke menyusun rencananya dan tujuannya jadi Te hanya dikeluarkan jika tujuannya sudah pasti. Te-dom lebih fleksibel.

Te-tert (ENFP, ESFP): Seringnya muncul untuk menutupi insecurities dalam hatinya (Fi). Jadi munculnya ketika stres. Biasanya untuk melupakan kesedihannya, mereka secara impulsif mengejar dan melakukan sesuatu yang menurut mereka menarik. Bahkan bisa jadi bossy/manipulatif, bahkan bisa menghalalkan segala cara juga demi mendapatkan apa yang dia mau, agar tidak sedih lagi. Selain itu kadang Te malah digunakan untuk pembenaran atas sikap/pandangannya yang salah. “Loh, kenyataannya kan X, kenapa aku harus berubah pikiran? Buktinya A, B, C… Kaku amat!” Padahal itu bukti bahwa ia sulit mematuhi aturan saja. Fi-nya berusaha mencari bukti objektif untuk membela argumennya.

Seharusnya Te bisa membantu Fi untuk menunjukkan bahwa moral yang dipegang teguh sekarang harus dikonfirmasi ke banyak sisi (jadi jangan berpaku sama moral sendiri saja, harus diupdate) dan dijadikan aturan bila memang bagus untuk diterapkan ke banyak orang. Te juga dapat memberikan arahan yang jelas dan terstruktur mengenai tujuan hidup para ENFP dan ESFP serta tidak berpaku pada kekurangan diri dan belajar menanggulanginya dengan hal nyata yang bisa dilakukan.

Te-inf (INFP, ISFP): Biasanya muncul dalam bentuk proyeksi ke orang lain karena merasa tidak memiliki Te yang cukup. Fi sebenarnya menyimpan banyak kekecewaan pada diri sendiri dan mereka tahu bahwa mereka tidak punya cukup kekuatan (kepercayaan diri) untuk membuat dirinya terlihat kuat di mata orang, sehingga biasanya mereka muncul sebagai orang yang bossy dan menganggap dirinya/moral yang dimilikinya paling sempurna dan orang lain payah sambil terus mengkritisi orang lain agar tidak dinilai lemah. Padahal sebenarnya orang Fi sering iri pada Te-dom yang percaya diri dan punya tujuan yang pasti.

Te harusnya dapat membantu Fi untuk tidak berpikir terlalu berlebihan dan menyalahkan diri sendiri karena buang-buang waktu dan tidak akan berdampak apa-apa pada dirinya. Daripada tenggelam dalam perasaan bersalah/tidak berguna, lebih baik melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Selain itu dapat menyadarkan Fi untuk lebih fleksibel pada moralnya, karena belum tentu moral seperti itu dapat diterapkan di dunia nyata.

-ISTJ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s