MBTI in Depth: Part 1 (Pendahuluan dan Miskonsepsi)

MBTI.

Iya itu nama OA ini, tapi kita belum pernah bahas apa itu MBTI sebenarnya.

APA ITU MBTI?

MBTI (Myers-Briggs Test Indicator) adalah suatu tes kepribadian yang diprakarsai oleh ibu-anak Myers dan Briggs. Tes ini akan mengklasifikasikan kepribadian manusia menjadi 16 kepribadian, yang masing-masing terdiri atas 4 huruf. Keempat huruf ini masing-masing memiliki ‘lawan’, jadi total 8 huruf, yang terdiri atas:
E: Extroverted vs I: Introverted
N: iNtuiting vs S: Sensing
T: Thinking vs F: Feeling
J: Judging vs P: Perceiving
Contoh: ENTJ (Extroverted, iNtuiting, Thinking, Judging).

Kami yakin kalo kalian follow OA ini kalian sebenernya tau tentang 8 huruf ini. Cuma tujuan kami bikin post ini adalah untuk meluruskan bahwa MBTI itu gak ‘sesimpel’ itu.

Oke kita bahas dulu yang simpelnya.

EXTROVERTED VS. INTROVERTED
E selalu diidentikkan dengan ramah, supel, gak malu, banyak teman, banyak omong, suka keramaian, suka tampil, gak capek kalo ketemu orang banyak, dll.
I sebaliknya, anti-sosial, pemalu, milih teman, gak suka ke keramaian, irit ngomong, dll.

Deskripsi demikian bikin kita bertanya-tanya, “Bagaimana kalau saya sebenarnya oke-oke saja di keramaian, suka banyak orang, tapi kalau pertama kali ketemu pemalu banget dan cenderung menarik diri? Saya I apa E ya?” dan banyak pertanyaan serupa lainnya.

INTUITING VS. SENSING
N selalu diidentikkan dengan penuh imajinasi, ngawang, pikirannya kurang bisa dimengerti, kreatif, visioner, dan gak masuk akal.
S biasanya realistis, bosenin, kaku, gak imajinatif, lebih masuk akal dan gak berpikir panjang.

Ini juga bikin kita mikir, “Saya suka berimajinasi, saya N dong?” (Terus siapa yang S dong? LOL😂)

THINKING VS. FEELING
Katanya T itu pokoknya orang yang mikir, logis, masuk akal, dingin, gak punya perasaan alias gak baper, pintar, dll.
Sedangkan F adalah orang yang penuh perasaan, romantis, gak enakan, baperan, gak logis, dan gak masuk akal.

Ini akan bikin muncul pertanyaan lagi, “Saya sih sebenernya logis, tapi sering gak enakan dan gampang tersinggung, saya T apa F ya?”

JUDGING VS. PERCEIVING
Terakhir, J itu katanya orangnya rajin, rapi (kamar, penampilan, meja belajar), tepat waktu, teratur, pintar mengatur sesuatu, pintar, terstruktur, dan hal kaku lainnya.
Kalau P orangnya slengean, malas, berantakan, ‘suka-suka gue’, sering terlambat, fleksibel, impulsif, gak punya rencana (baik jangka pendek maupun jangka panjang), dan sering random.

Orang biasanya baca deskripsi ini secara harafiah, terus mereka akan mulai mempertanyakan diri mereka sendiri, “Saya lakuin apa yang saya mau saja, saya gak punya aturan yang tetap, tapi saya sangat rapi dan peduli kebersihan, perfeksionis, dan saya benci banget terlambat, jadi saya J/P ya?”


BIAS YANG TIMBUL DAN BIKIN BINGUNG

Kita – setidaknya kami – sering banget dengar pertanyaan atau pernyataan seperti di atas. Kebanyakan orang akan ambil tes ulang setelah beberapa lama dan hasilnya berubah. Beberapa orang mungkin akan berkesimpulan kalau hasil tes tersebut dibiaskan oleh pikiran mereka dan mood mereka sendiri. Mengapa?

1. Mereka berpikir sebelum menjawab pertanyaannya.
Hal ini membuat orang menilai ulang dirinya dan beberapa orang akan mulai mencocokkan pilihan mereka dengan diri mereka yang ‘ideal’. Seharusnya, pertanyaan tes ini dijawab secepat mungkin untuk meminimalisir kesalahan ini.

2. Mereka sedang berada di suatu mood tertentu.
Ini adalah bias yang paling sering ditemukan. Ketika seseorang – biasanya E – sedang bete, biasanya mereka akan menarik diri mereka dari orang-orang. Orang ini akan berpikir mungkin mereka adalah seorang introvert, tanpa memerhatikan moodnya saat itu. Ia akan coba tes ulang, dan firasatnya benar! “Ya ampun, ternyata saya beneran I!” Ketika moodnya kembali, dia akan bingung dan akhirnya memutuskan bahwa dirinya adalah seorang “ambivert”.

Hal yang kedua, soal-soalnya membuat kita berpikir ke hal yang bukan seharusnya. Bentuk pertanyaannya gak spesifik, seperti, “Saya lebih suka tepat waktu”, “Saya suka menghabiskan waktu akhir pekan di rumah”, atau “Saya rasional”. Beberapa dari kalian mungkin merasa bahwa pilihan jawabannya bukan diri kalian yang sebenarnya, tapi mau gak mau harus dipilih. Walaupun mereka coba pakai metode skala Likert (1=sangat gak sesuai, 5=sangat sesuai) untuk menjawab tendensi seseorang terhadap pertanyaan tersebut, bentuk pertanyaannya tetap terlalu gak spesifik.

Hasil tesnya dipresentasikan dalam bentuk persentase (Kamu 52% I dan 48% E; 23% N dan 77% S; 61% F dan 39% T; 54% J dan 46% P – ISFJ). Lalu, orang akan memerhatikan angkanya. Oh, hampir 50:50. Jadi orang akan berpikir, “Wah mungkin saya campuran antara (E/I)SF(J/P)!” Pada nyatanya, kebanyakan orang akan sangat kebingungan dengan hasil seperti ini. Akhirnya, orang akan menjadi skeptis mengenai MBTI dan menyamakannya dengan kepribadian berdasarkan zodiak atau golongan darah.

Atau, anggaplah jika seseorang dapat hasil yang gak 50:50, ketika ia baca deskripsi kepribadiannya, mereka akan bergumam, “Oh, ini GUE BANGET!” Sebaliknya, beberapa orang mungkin malah kecewa, “Hmm ini penjelasannya gak mirip sama kepribadian saya sih…” Akhirnya orang-orang kecewa ini akan tes ulang, dan hasilnya beda. Tambah bingung, deh.


PENJELASAN

Bias dan hal yang membingungkan di atas lah yang membuat kita harus menelisik lebih lanjut tentang asal dari teori MBTI ini sendiri, yaitu Teori Fungsi Kognitif Jungian. Carl Jung mempublikasi teorinya di tengah-tengah penelitian Myers-Briggs tentang MBTI ini. Mereka menyadari bahwa terdapat banyak kesamaan dalam teorinya dan teori Jung. Myers-Briggs akhirnya menciptakan kode 8 huruf tersebut.

Untuk membuat teorinya lebih simpel, mereka membuat teorinya menjadi dikotomi – 4 huruf yang saling berlawanan sifat tadi. Penjelasan ini jauh lebih mudah dijelaskan dibandingkan dengan teori Jung yang asli. Salahnya, orang jadi cenderung TERLALU MENYEDERHANAKAN teori ini, yang akhirnya malah bikin sesat. Ditambah lagi, penjelasan mengenai tipe-tipe kepribadiannya juga terlalu umum dan stereotip. Penjelasan stereotip ini akan melahirkan guyonan-guyonan tentang masing-masing tipe yang biasa kita baca, padahal gak semuanya begitu.

Penjelasan tipe kepribadian stereotip dan berbentuk poin yang biasa kita baca akan ‘memaksa’ orang untuk mencocokkan dirinya dengan deskripsi tersebut, dengan asumsi seseorang percaya dengan jawaban dan hasil tesnya valid. Hal yang sama terjadi pula pada zodiak dan golongan darah – Ketika kamu lahir di suatu tanggal dan bulan tertentu, kamu pasti X, X itu blablabla, atau jika golongan darah kamu B, kamu itu blablabla. Deskripsinya biasanya gak spesifik dan gak jelas (maksudnya, mungkin gak cuma kamu saja yang punya sifat kayak begitu), tapi orang akan tetap mengamininya. Fenomena ini disebut “Efek Barnum” (baca lebih lengkapnya di Google).

Jadi, JANGAN PERNAH menentukan kepribadian kalian dengan dikotomi ini, karena menimbulkan banyak kebingungan dan kesesatan di mana-mana.

Sekarang kita sudah tahu bahwa MBTI gak sesimpel itu dan kita gak boleh menggunakan dikotomi untuk menentukan kepribadian kita, jadi apa selanjutnya? Di post selanjutnya, kami akan membahas lebih lanjut tentang teori kognitif.

-ISTJ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s